RADAR BENGKULU - Jika Anda berkunjung ke Sumatera Barat, khususnya ke Bukittinggi, aroma rempah dan cabai hijau yang ditumis harum akan menuntun Anda pada satu hidangan legendaris: Itiak Lado Hijau. Berbeda dengan rendang yang dominan manis-gurih kelapa, hidangan ini menawarkan sensasi pedas yang segar dan tekstur daging bebek yang unik.
Filosofi di Balik Rasa
Itiak Lado Hijau (Bebek Cabai Hijau) secara tradisional berasal dari daerah Koto Gadang. Awalnya, hidangan ini merupakan sajian istimewa dalam acara adat. Kunci kelezatannya terletak pada penggunaan cabai hijau keriting yang melimpah, memberikan warna hijau pekat yang menggoda tanpa rasa pedas yang "menyiksa" seperti cabai rawit.
BACA JUGA:Sarunai: Melodi Magis dari Tanah Minang
Rahasia Kelezatan Itiak Lado Hijau
Apa yang membuat hidangan ini begitu dicari? Berikut adalah tiga rahasia utamanya:
Teknik Memasak "Lamo" (Lama): Bebek dimasak dalam waktu yang sangat lama dengan api kecil. Proses ini memastikan bumbu meresap hingga ke tulang dan tekstur daging menjadi empuk (tidak alot).
Keseimbangan Rempah: Perpaduan lengkuas, jahe, kunyit, dan daun jeruk berfungsi ganda; memberikan aroma aromatik sekaligus menghilangkan bau amis khas bebek.
Minyak Kelapa Asli: Tumisan cabai hijau biasanya menggunakan minyak kelapa yang memberikan rasa gurih alami yang berbeda dari minyak goreng biasa.
Cara Menikmati yang Sempurna
Menikmati Itiak Lado Hijau bukan sekadar makan, tapi sebuah pengalaman. Berikut adalah cara terbaik menikmatinya:
Nasi Hangat: Wajib disandingkan dengan nasi putih yang masih mengepul.
Kerupuk Jangek: Tekstur renyah dari kerupuk kulit (jangek) sangat cocok dengan kuah hijau yang berminyak.
Daun Singkong: Rebusan daun singkong memberikan penawar rasa pedas yang pas di lidah.