radarbengkuluonline.id – Memasuki waktu sore di bulan Ramadan, kawasan Simpang 4 Dehasen kembali bertransformasi menjadi pusat perburuan takjil bagi warga sekitar dan mahasiswa.
Lokasinya yang sangat strategis membuat kawasan ini tidak pernah sepi dari para pencari kudapan berbuka puasa.
BACA JUGA: Nikmatnya Buka Puasa Bersama Keluarga Pasien di Lorong Rumah Sakit M. Yunus
Berbagai jenis penganan mulai dari gorengan, es buah, hingga lauk-pauk matang berjejer rapi di sepanjang pinggir jalan. Kemudahan akses menjadi nilai plus utama bagi kawasan ini. Terutama bagi mahasiswa yang tinggal di kos-kosan sekitar Kelurahan Sawah Lebar.
Namun, di balik lengkapnya menu takjil yang ditawarkan, para pembeli harus ekstra sabar menghadapi tantangan di lokasi ini. Kondisi lalu lintas yang semrawut menjadi nilai minus yang dikeluhkan banyak orang.
Kemacetan tidak terelakkan karena banyaknya kendaraan yang berhenti di bahu jalan, ditambah lagi dengan perilaku pengendara yang kurang tertib.
Salah seorang pembeli Angga (23), mengaku sering dilema saat ingin membeli takjil di kawasan tersebut. Di satu sisi, ia merasa sangat terbantu dengan jarak yang dekat, namun di sisi lain ia merasa kurang nyaman dengan kondisi jalanan.
“Beli takjil di sini dekat saja dari kos, daripada jauh nian ke Balai Buntar. Tapi itulah, macet di sini, mana jarang orang mengikuti lampu merah,” ujar Angga saat ditemui Radar Bengkulu sedang mengantre es buah, Kamis sore.
Pelanggaran lampu merah di simpang ini memang menjadi pemandangan umum, yang seringkali membahayakan pembeli yang hendak menyeberang atau memarkirkan kendaraannya. Meski begitu, pesona takjil Simpang 4 Dehasen tetap sulit ditolak, menjadikannya salah satu titik tersibuk di Kota Bengkulu setiap menjelang azan Magrib.