Cara Menyikapi Kesalahan Orang Lain

Jumat 27-03-2026,00:08 WIB
Reporter : Adam
Editor : Azmaliar Zaros

radarbengkuluonline.id -- Para pembaca  rahimakumullah, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat  lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya,  Cara Menyikapi Kesalahan Orang Lain.

 

Materi ini ditulis oleh Ustadz Dr. Nur Hidayat, M. Ag. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Jami" Babussalam, Jalan P.Natadirja KM.8 Kelurahan Jalan Gedang Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu. 

Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Bulan Ramadan telah berlalu dan saat ini umat Islam masih dalam suasana Idul Fitri, saling maaf memaafkan. 
Idul Fitri berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata. Yaitu “id” yang berarti kembali dan “fitri” yang berarti suci.

Maksudnya, orang yang menjalankan ibadah puasa dengan benar, maka dirinya akan kembali pada kesucian. Seperti bayi yang baru lahir ke dunia. Ia dalam keadaan suci dan bersih serta tidak mempunyai dosa dan itulah yang disebut dengan fitrah manusia sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis:


 “Barang siapa melaksanakan puasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.”


Ibarat kupu kupu, kita baru saja keluar dari yang sebelumnya berwujud ulat, sering membuat gatal, merusak dan merugikan lingkungan, menjadi kupu kupu yang warna warni, menyenangkan dan tidak ada yang membencinya. Itulah gambaran yang diharapkan bagi orang yang telah selesai menjalankan puasa.


Hari raya Idul Fitri adalah kembalinya jiwa dan raga kita kepada fitrah, jiwa yang suci karena dosa-dosa kepada Allah sudah dihapus. Meskipun demikian, dosa-dosa yang berkaitan dengan sesama manusia tidak akan dihapus begitu saja melainkan setelah dimaafkan oleh orang yang bersangkutan. Dengan kata lain, dosa kepada sesama manusia tidak bisa hilang atau terhapus dengan puasa dan istihgfar, tetapi kita harus saling maaf-memaafkan atas kesalahan yang dilakukan. 


Dalam rangka menyikapi kesalahan orang lain, Allah Swt menujukkan tiga kelas manusia. Sebagaimana yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 133 dan 134, Allah SWT berfirman:


 ''Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi  disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.'' (QS[3]:133-134).
 


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Berdasarkan ayat tersebut dapat diketahui bahwa dalam menyikapi kesalahan orang lain terdapat 3 tingkatan. Yaitu:  


1.     Pertama adalah ”tal-Kazimin”, yaitu manusia yang mampu menahan amarah pada saat ada orang yang berbuat salah kepada kita.           


2.     Kedua adalah “al-‘Afiin”, yaitu mereka yang bukan hanya mampu menahan amarah, namun juga mampu memaafkan kesalahan orang lain.


3.      Ketiga adalah  š”al-Muhsinin”,  yakni manusia yang bukan sekadar mampu menahan amarah, atau mampu memaafkan kesalahan orang lain, tetapi lebih dari itu, manusia tersebut mampu berbuat baik kepada orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya. Kelompok inilah yang paling disukai oleh Allah SWT.


Apabila kita tidak mau memaafkan orang lain berarti dalam hati kita masih ada rasa dendam. Rasa dendam tersebut akan menjadi energi negatif dan merupakan beban bagi dirinya sendiri. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan berbagai penyakit yang membahayakan. Dalam satu hadis disebutkan bahwa salat dan puasa belum cukup membawa seseorang ke surga sampai dadanya bersih dari dendam, hatinya penyayang, dan berbelas kasih terhadap sesama.

 

 

Kategori :