Garis Merah Donald Trump Ditolak Iran

Sabtu 30-05-2026,17:49 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Editor : Azmaliar Zaros

radarbengkuluonline.id, Jakarta  - Pemerintah Iran memberikan tanggapan keras terhadap syarat dan garis merah yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam negosiasi damai konflik Timur Tengah.

Seperti dikutip dari laman harian disway, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Republik Islam Iran telah lama meninggalkan era di mana mereka bisa didekte oleh kekuatan asing.

BACA JUGA:Manfaatkan Teknologi, Pemda Bengkulu Selatan Luncurkan Sipacak, Permudah Pembayaran Pajak

"Iran telah mengucapkan selamat tinggal pada bahasa 'harus' sejak 47 tahun yang lalu," ujar Esmaeil Baqaei kepada media pemerintah pada Jumat, 29 Mei 2026, menyikapi tekanan dari Washington.

Walaupun ketegangan sempat memuncak akibat serangan militer AS di pelabuhan Bandar Abbas yang dibalas tembakan oleh Iran pada awal pekan ini, Baqaei menambahkan bahwa pertukaran pesan antar kedua negara masih terus berlanjut. Namun, ia menekankan bahwa hingga saat ini belum ada kesepakatan final yang tercapai untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang ekonomi global tersebut.

Di samping itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjukkan sikap yang lebih terbuka melalui komunikasi diplomatik. Dalam sebuah panggilan telepon dengan Emir Qatar, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran siap untuk mencapai sebuah "kerangka kerja yang bermartabat" guna mengakhiri peperangan ini, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA. 

Pernyataan dari pihak Iran ini berbanding terbalik dengan klaim sepihak yang disampaikan oleh Donald Trump setelah mengadakan pertemuan dua jam di Situation Room Gedung Putih pada Jumat, 29 Mei 2026. Melalui unggahan di media sosialnya, Trump mengklaim bahwa Teheran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan mengakhiri penutupan jalur maritim tersebut tanpa ada biaya sepeser pun. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat bersedia mencabut blokade paralel di pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kemudian, Trump juga menyatakan bahwa kedua negara akan berkoordinasi untuk memindahkan dan menghancurkan uranium yang diperkaya milik Iran. Ia bahkan menambahkan klausul sepihak bahwa tidak akan ada uang yang dipertukarkan dalam kesepakatan ini sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. 

Namun, klaim Trump tersebut langsung dibantah oleh sumber internal Teheran. Kantor berita Iran, Fars, mengutip sejumlah sumber yang menyatakan bahwa Iran justru menuntut pembebasan segera aset-asetnya yang dibekukan senilai 12 miliar dolar AS sebelum mereka bersedia melangkah ke tahap negosiasi berikutnya.

Sedangkan mengenai  pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya seperti yang digembar-gemborkan Trump, sumber tersebut menegaskan bahwa klausul seperti itu sama sekali tidak tercantum dalam teks perjanjian yang sedang dibahas.


Sumber tersebut juga menyatakan bahwa klaim Trump mengenai penghancuran material nuklir Iran adalah pernyataan yang sama sekali tidak berdasar. 

Sebelumnya, Kepala Pentagon Pete Hegseth dari Singapura sempat melontarkan ancaman bahwa militer Amerika Serikat dan CENTCOM tetap waspada serta memiliki pasokan amunisi yang sangat memadai untuk melanjutkan perang jika jalur diplomasi ini menemui jalan buntu.

 

Kategori :