Begini Cara Mengontrol Pemakaian Gawai pada Anak dan Remaja

Senin 01-06-2026,10:22 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Editor : Azmaliar Zaros

radarbengkuluonline.id, Surabaya  - Jika tentang gawai dan screen time, anak-anak dan remaja menjadi sulit dikendalikan. Orang tua pun dilema. Tak mungkin sama sekali tidak mengizinkan mereka bertualang di ranah online. Namun, membatasi aktivitas mereka di jagat maya juga bukan perkara mudah.

Seperti dikutip dari laman harian disway, yang terjadi sekarang, anak-anak sering tantrum dan emosional ketika diminta meletakkan gawai. Beribu alasan diberikan agar tidak berpisah dengan gawai. Kadang, alasannya terasa masuk akal. Mengingat, aktivitas sekolah pada zaman modern ini juga melibatkan interaksi melalui aplikasi di gawai.

BACA JUGA:Menteri Haji dan Umrah Siapkan Langkah Perbaikan Penyelenggaraan Haji 2027

Selain itu, zaman juga menuntut orang tua untuk selalu stand by dengan gawai. Urusan pekerjaan pun sebagian besar diselesaikan dan dikerjakan dengan bantuan gawai. Pemerintah sudah membuatkan "pagar" berbasis usia lewat Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. Usia 16 tahun menjadi batasan untuk bisa menjelajah ranah digital, utamanya memiliki akun media sosial. Sayangnya, acap kali batasan usia itu disiasati dengan identitas palsu.

Dampak makin lekatnya anak dan remaja pada gawai serta cenderung abai pada lingkungan sekitarnya menjadi pokok bahasan menarik seminar APSILANGGA bertajuk Keluarga vs Gadget: Masih Bisa Dekat? Seminar berlangsung hybrid pada Sabtu, 30 Mei 2026. Tiga narasumber perempuan menemani peserta luring dan daring berdiskusi tentang topik yang kian hari kian menarik tersebut.

Watiek Ideo penulis buku anak, menyajikan materi tentang Seni Berkomunikasi dan Membangun Bonding Lintas Generasi. Dia menyoroti dampak perkembangan teknologi yang tidak semuanya positif.  "Itu tergantung pada cara kita mengedukasikan pembatasan usia tersebut. Orang tua wajib memberitahukan kepada anak tentang alasannya," ucap Watiek.

Sering kali, menurut dia, anak-anak dan remaja tidak bisa menerima aturan yang orang tua bikin karena tidak mengerti alasan yang melatarinya. Watiek mengimbau orang tua mengajarkan literasi digital yang baik pada anak. Dengan demikian, anak-anak tidak perlu memalsukan identitas hanya untuk bisa login aplikasi tertentu. 

"Kalau saya pribadi, lebih memilih membicarakan bahaya apa saja yang mengintai mereka di dunia maya, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi diri," tambahnya.  

Kemudian, orang tua dan anak harus memiliki kesepakatan terkait aturan penggunaan gawai. Jadi, anak dan orang tua harus menyepakati waktu bermain gawai sesuai durasi yang ditentukan bersama. Selain itu, orang tua juga harus bisa memberikan contoh kepada anak terkait cara menggunakan gawai dengan bijak dan tepat supaya tidak susah bagi anak untuk mengikuti peraturan tersebut.

Kemudian, jelaskan konsekuensi yang akan didapatkan jika tidak melaksanakannya sesuai kesepakatan. Bagi yang sudah terlanjur emosional saat diminta berhenti bermain gawai, durasinya harus dipotong secara bertahap.  Waktu yang terpotong tersebut diganti kegiatan produktif lain yang bisa membangun kebersamaan antara anak dan orang tua. Dengan demikian, anak-anak tidak kebingungan saat tiba-tiba jam main gawainya dipotong. 

"Misalnya dengan membaca buku atau mencoba resep makanan baru dari YouTube secara bersama-sama. Panduannya ditonton bersama di gawai, sehingga kita bisa menggunakan teknologi dengan hati," jelas Watiek.

Di samping Watiek, pemateri lain yang memberikan banyak insight menarik adalah Josephine Maria Julianti Ratna. Psikolog klinis itu mengatakan bahwa para orang tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pun bisa mengatur jadwal penggunaan gawai.

"Untuk ABK, orang tua diajarkan membuat tempat khusus yang dinamakan sebagai 'tempat tidur' khusus gadget. Jadi, di pojok meja, yang posisinya harus di luar tempat tidur anak, kita bisa memberikan alas atau taplak kecil," tutur Josephine.

Tujuannya supaya orang tua bisa memberitahukan bahwa gawai juga perlu di-charge, tidur, dan makan. Makanannya adalah listrik, sama seperti manusia yang butuh istirahat dan makan untuk menambah energi. "Penyampaian tersebut tentu harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan pemahaman anak. Itu tadi salah satu cara memberikan jeda penggunaan gawai, lalu kita bisa mengalihkan mereka dengan kegiatan lain," pesannya. 

Para pemateri menegaskan bahwa teknologi bukan hal yang harus dilawan. Sebaliknya, teknologi justru harus dikenali, diakrabi, agar orang tua tahu batasan yang harus diterapkan bagi anak-anak dan remaja.

 

Kategori :