radarbengkuluonline.id -- Para pembaca rahimakumullah, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya, Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal
Materi ini ditulis oleh Ustadz Ali Syukran Fauzi. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Nurul Yaqin, Jalan Setia Negara Kelurahan Kandang Mas, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.
Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.
Khutbah I
إِنّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ ونستهديه ونشكره، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَنشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لا نبي بعدَه.
اللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ التناد.
أما بعد، عباد الله أوصي نفسي أولا وأوصيكم بتقوى الله، فقد فاز المتقون. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ) وقال أيضا: (وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.)
Sidang Jumat yang Dirahmati Allah,
Hari ini, di mimbar yang mulia ini, khatib mengajak dan mengingatkan, terutama pada diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan iman dan takwa. Dalam arti, bersungguh-sungguh dalam menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.
Tak lupa khatib juga mengajak jamaah untuk mempertebal kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Karena mencintai Rasulullah merupakan bagian dari iman.
Barang siapa yang ingin dicintai Allah, maka cintailah Rasulullah. Barang siapa yang ingin merajut jalinan dengan Allah, maka rajutlah jalinan dengan Baginda Nabi. Itulah jalan dan cara yang disampaikan Allah langsung dalam Kitab-Nya, surat Ali Imran ayat 31:
قُل اِن كُنتُم تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِى يُحبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغفِرْ لَـكُم ذُنُوبَكُم وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sidang Jumat yang Diberkati Allah
Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema “Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal”.
‘Ibadallah…, ketahuilah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah “isti’adzah” atau mohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, sebagaimana terekam dalam doanya berikut ini :
يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا
تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، (وفي رواية: ومن دعوة لا يُستجابُ لها)
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas, doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR An-Nasai)
Mari kita perjelas satu per satu. Semoga kita dapat memahami kenapa Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal tersebut.
Isti’adzah pertama, Nabi berlindung dari “ilmu yang tidak bermanfaat”. Apa itu ilmu yang tidak bermanfaat? Menurut Imam Al-Qadhi ’Iyyadl ilmu yang tidak bermanfaat adalah:
العلم الذي لا يُعمل به، أو لا يهدي إلى طاعة الله، ولا يُثمِر خشيةً ولا صلاحًا
“Ilmu yang tidak diamalkan, atau yang tidak mengantarkan kepada ketaatan kepada Allah, atau yang tidak membuahkan rasa takut dan yang tidak membuahkan kesalehan.”
Artinya, ilmu yang dihindari di sini adalah ilmu yang dimiliki tetapi hanya menjadi materi perdebatan, sebagai sarana mencari ketenaran dan popularitas, sebagai bangga-banggaan atau gagah-gagahan, untuk mencari gelar, dan/atau untuk sekadar mencari dunia.
Seharusnya niat mencari ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan, melaksanakan kewajiban dan mencari ridha Allah. Sementara buah dari ilmu yang bermanfaat adalah “al-khasyyah” atau rasa takut kepada Allah. Hal ini sebagai ditegaskan Allah dalam surat Fathir ayat 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.”
Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah
Isti’adzah yang kedua, Nabi SAW berlindung dari “hati yang tidak khusyuk”.
Menurut Al-Qadhi ’Iyyadl, hati yang tidak khusyuk adalah:
هو القلب القاسي الذي لا تَلينه المواعظُ، ولا تُؤثِّر فيه آياتُ الله.
“Yaitu hati yang keras, yang tidak menjadi lunak oleh nasihat dan tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Allah.”
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 74:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كالحجارة أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang memancar sungai-sungai darinya, ada pula yang terbelah lalu keluarlah air darinya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Bahkan, dalam surat Az-Zumar ayat 22, Allah mengancam hati yang keras:
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Maka celakalah orang-orang yang hatinya telah keras untuk mengingat Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.”
Sementara itu, menurut Nabi Muhammad, penyebab hati keras ada tiga.
Penyebab pertama adalah terlalu banyak tertawa. Nabi SAW bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati.” (HR At-Tirmidzi)
Penyebab kedua adalah dosa yang ditumpuk-tumpuk, tanpa diperhatikan dan disadari. Nabi SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditorehkan satu titik hitam pada hatinya.” (HR Ibnu Majah)
Adapun penyebab yang ketiga adalah jauh dari Allah. Menyangkut hal ini, Nabi SAW bersabda:
أَبْعَدُ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي
“Orang yang paling jauh dari Allah adalah yang berhati keras.” (HR At-Tirmidzi)