Orang Yang Dikutuk Allah SWT Pada Hari Sabtu

Orang Yang Dikutuk Allah SWT Pada Hari Sabtu

Dr. H. Rozian Karnedi, M.Ag-Adam-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id -- Para pembaca  rahimakumullah, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat  lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya, Orang Yang Dikutuk Allah SWT Pada Hari Sabtu.


Materi ini ditulis oleh Ustadz  Dr. H. Rozian Karnedi, M.Ag.  Ia adalah dosen dan Wakil Dekan II Fakultas Syariah UIN FAS  Bengkulu, Ketua Komisi Dakwah MUI Provinsi  Bengkulu, Wakil Rois Syuriyah  Nahdlatul Ulama  Wilayah Bengkulu.

Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di  Masjid Jami Babussalam, Jalan P.Natadirja KM.8 Kelurahan Jalan Gedang, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.


Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. 

 
Hadirin jamaah Jumat Rahimakumullah
Al-Quran  menceritakan kisah ashabussabti, yakni  sekelompok  masyarakat Bani Israil (Yahudi)  yang dikutuk oleh Allah pada hari Sabtu. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah dalam Surat Annisa ayat 47:  
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا 

Artinya ” Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu, sebelum Kami merobah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang, atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti akan berlaku”. ( Q.S. Annisa: 47)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah  mengutuk orang Yahudi  menjadi kera yang hina. Masyarakat kera ini dikutuk oleh Allah karena mereka telah banyak  melakukan kesalahan, pelanggaran, dan kriminalitas dalam agama.  Diantara sebab mereka menjadi kera adalah:

1. Melanggar Aturan Allah
Allah SWt Berfirman:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ 

Artinya : Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina ( Q. S. Al-Baqarah: 65)

Ayat di atas menjelaskan  sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Yahudi. Mereka bermaksiat kepada Allah, mereka melanggar janji mereka yaitu berupa menghormati hari Sabtu. Allah memimnta bani Israil (Yahudi) untuk menghormati hari ibadah mereka  pada hari Sabtu. Pada hari itu mereka dilarang oleh Allah untuk mencari ikan atau turun ke laut. Perjanjian ini pada awalnya mereka patuhi, namun Allah menguji mereka dengan banyaknya  ikan bermunculan di permukaan laut pada hari Sabtu, sedangkan pada hari lain (selain Sabtu) ikan-ikan tersebut tidak muncul. Banyak diantara mereka yang tergiur dan melanggar perjanjian, sehingga Allah mengutuk mereka menjadi kera yang hina. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah dalam QS Al-‘Araf 163:

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ 

Artinya:“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.( Q.S. Al-‘Araf: 163).

2. Bersifat Sombong (Melupakan apa yang diingatkan)
Allah berfirman :

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ 

Artinya :”Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina. (Q.S. Al-‘Araf 166).

3. Menyembah Thaghut
Allah Berfirman :

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Artinya : "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?" Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.(Q.S: al-Maidah:60)

Ayat-ayat di atas menjelaskan dan menceritakan masyarakat (Yahudi) yang melanggar aturan Allah, maka Allah mengutuk mereka menjadi kera yang hina. Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam memahami ayat  tersebut sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Al-Jalalain dan Tafsir Al-Khazin disebutkan  sebagai berikut:

Pertama, mereka betul-betul menjadi kera yang rendah, kecil yang hanya bertahan hidup tiga hari.


Kedua, bahwa para pemudanya menjadi kera dan para orang tua mereka menjadi babi, mereka hanya bertahan hidup tiga hari kemudian punah dan tidak beranak. 


Ketiga, menurut Mujahid (kibaruttabi’in) bahwa bukan bentuk mereka menjadi kera tetapi hati mereka yang (sudah) berubah atau sama dengan kera (mentalitas kera).

Terlepas dari perbedaan penafsiran di atas, yang jelas  pelanggaran terhadap aturan Allah dapat mengundang laknat atau kutukan Allah.  Ayat-ayat di atas secara khitab-nya memang ditujukan kepada orang Yahudi, tetapi pada hakikatnya bukan hanya ditujukan kepada Yahudi, tetapi juga untuk seluruh manusia  agar tidak meniru sifat Yahudi yang selalu ingkar janji dan mempunyai sifat kera (mentalitas kera). 


Allah mengutuk mereka menjadi kera karena  mereka meninggalkan kemanusiaannya, mereka memilih dunia binatang, maka Allah memberikan kutukan yang sepadan yakni menjadi kera.

Ayat-ayat di atas mengingatkan kita agar tidak  melanggar aturan Allah, tidak menyembah thgahut, tidak bersifat sombong atau bangga ketika berbuat dosa.  Bersifat sombong terhadap nasihat dan peringatan Allah melalui para da’i dapat mengundang murka dan kutukan  Allah. Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Demikian khutbah kita pada kali ini, semoga tahun 1448 H lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,  keberkahan dan kebaikan selalu menyertai kita di sepanjang tahun.  

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ,

وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: