Inilah Riwayat Selingkar Tanah Bengkulu Tempo Dulu (27), Sentot Ali Basjah Dibuang ke Bangkahulu 1834

Inilah Riwayat Selingkar Tanah Bengkulu Tempo Dulu (27),  Sentot Ali Basjah Dibuang ke Bangkahulu 1834

Inilah Kantor Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kota Bengkulu yang terletak di Jalan Basuki Rahmat-Azmaliar Zaros-

 

PENGANTAR REDAKSI:

Kota Bengkulu merupakan ibukota Provinsi Bengkulu. Kota yang memiliki nama kelurahan yang unik-unik itu juga memiliki riwayat tempo dulu. Apa itu? Yaitu, Selingkar Tanah Bengkulu Tempo Dulu. Bagaimana riwayatnya, silakan baca laporan khusus wartawan RADARBENGKULUONLINE.COM    itu secara bersambung  ini sampai tuntas. 

Walaupun tulisan ini belum lengkap, setidaknya bisa jadi bahan masukan untuk semua pihak. Kalau pun ada kekurangan, ini bisa diperbaiki oleh tokoh masyarakat Bengkulu untuk menuju ke arah kesempurnaan.  (*)

 

 Sentot Ali Basjah Dibuang ke Bangkahulu 1834

 

AZMALIAR ZAROS - Kota Bengkulu

 

RADARBENGKULUONLINE.COM - Pada bulan Agustus 1833 singgahlah di Bangkahulu ini seorang komisaris Jenderal dalam pelayarannya  ke Padang. Namanya Van der Bosch.

Didapatinya kota ini sedang kusut dan ribut. Sekeliling kota ini dikepung oleh orang-orang yang melawan pemerintahan Belanda. Urusan Bestenur terserah pada magistraat atau hakim yang bernama Bogle. 

Anak tuan Bogle memeluk agama Islam dengan menukar namanya dengan Nurtjahaja . Dia kawin  sama Raden Ahmad Chatim dengan memotong tujuh ekor kerbau. Dari pernikahan itu, ada seorang anaknya bernama R.A Gentjana. Ia meninggal di Ketahun. Kedua suami istri tersebut  mati di Bunga Mas.

 Bogle juga sudah tak tentu perasaanya ketika itu. Seolah-olah serupa  orang jatuh renumesen keadaannya. Kebetulan pada ketika itu Van der Bosch  ada membawa asisten residen E Francis yang digantikan oleh Knoerle dahulu.

E Francis inilah diperintahkan  oleh Van der Bosch buat mengatur sementara kekusutan yang terjadi di dalam pemerintahan Daerah Bangkahulu ini. Dalam beberapa bulan saja  keamanan Bangkahulu kembali sebagaimana sediakala. Ini karena pimpinan E.Francis tersebut bijaksana.

Pada tanggal 24 November 1833 terjadilah bencana alam yang amat dahsyat di seluruh keresidenan ini. Semenjak dari gempa bumi ini terjadi, mulailah mundur kemakmuran negeri Bangkahulu.

Sawah, ladang dan perkebunan anak negeri  tidak menjadi. Sehingga terasa benar oleh rakyat kesukaran hidup dan kepaceklikan uang ketika itu. Masa itu musim malaise yang belum pernah dirasakan oleh rakyat.

Pada tahun 1834 Pangeran Ali Basjah Prawirrodiharjo dibuang serta dengan dua orang raja Jawa bernama Pangeran Kesumo Negoro , anak dari Pemangku Bewono III dan Tumenggung Suro Djenggolo.

Nama Pangeran Ali Basyah Prawirodiharjo ada tercatat  di dalam sejarah  waktu perang Diponegoro  tahun 1825-1830, tapi tidaklah begitu  harum namanya .

Anaknya ada empat orang di Jakarta. Yang perempuan jadi permaisuri dari sultan yang ke 7 di Jogjakarta. Kuburan Pangeran Ali Basyah terletak di Surau lama. Yaitu kuburan yang terindah bentuknya.

Anak Pangeran Kusumo Negoro kawin sama Sayid Alwi. Sayid Alwi ini ada 4 bersaudara . Yaitu Sayid Usman (anak kedua), Syarifah Kabir (anak ke 3), Syarifah Shaqir (anak ke 4).

Dua orang anak perempuanya ini kembali ke Hadramaut. Dan dua orang laki-laki pulang ke Jogja. Keempatnya ini adalah anak yang mulia Tuan Sayid Muhammad Zein AlMadani Keramat Surau Lama Bangkahulu.(bersambung)

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: