Ikhlas Dalam Melaksanakan Ibadah

Ikhlas Dalam Melaksanakan Ibadah

Dr. H. Suwarjin, MA -Adam-radarbengkulu

Ciri-ciri Ikhlas

Menurut Syekh Zunnun al-Mishri, ada tiga tanda orang yang ikhlas dalam beribadah. Yaitu:

1. Tidak terpengaruh oleh pujian dan celaan dari orang lain

Orang yang ikhlas dalam beribadah tidak memperdulikan apa tanggapan orang terhadap ibadah yang dikerjakan. Pujian tidak menjadikan dirinya senang dan bangga. Celaan tidak membuatnya marah dan kecewa. Sikap ini muncul dari penghayatan yang mendalam terhadap tujuan ibadah yang dilakukan.

Yaitu, semata-mata karena Allah. Urusan dia dengan Allah, bukan dengan manusia. Para ulama Sufi mengajarkan kepada kita suatu ungkapan dan doa sebelum melaksanakan ibadah: Wahai Tuhanku, Engkau lah Yang aku tuju dan Ridho Mu yang aku Cari, anugerahkan kepadaku ma'rifat dan cinta kepada Mu'. 

2. Tidak menghitung-hitung amal kebaikan yang telah dilakukan 

Menghitung-hitung amal akan menyebabkan dua kerugian sekaligus. Pertama; membuat malas beribadah. Orang yang suka menghitung-hitung amal akan malas melaksanakan ibadah. Karena, ia merasa amal ibadahnya sudah cukup banyak.

Misalnya, kalau hari ini seseorang membaca ayat pertama dari surat Al-fatihah yang terdiri dari 19 huruf, lalu setiap huruf dibalas dengan 10 kebaikan, maka pahala yang didapatkannya berjumlah 190 kebaikan. Kalau dia banyak, lengkap surat al-Fatihah, maka pahahanya akan sangat banyak. 

 

Kalau dia selalu menghitung-hitung pahalanya itu, maka akan merasa pahalanya sudah sangat banyak dan karenanya ia akan malas membaca Alquran lagi. Padahal pada saat yang lain boleh jadi ia melakukan dosa yang dapat menjadi pengurang pahala tersebut. 

Kedua; Timbul rasa bangga. Jika setiap kebaikan selalu dihitung-hitung, akan muncul penyakit hati. Yaitu, bangga (riya', ujub) terhadap ibadah yang dilakukannnya. Padahal sikap membanggakan ibadah akan merusak ibadah itu sendiri, sehingga seolah-olah ia tidak pernah melakukan ibadah tersebut.

 

Bahkan lebih buruk lagi, karena kebanggaannya terhadap ibadah itu akan menjadi bencana di akhirat. Karena, Allah akan mempermalukan orang tersebut dihadapan hamba-hamba-Nya. Ia akan merasa malu dan merugi karena mendapati amal ibadahnya sia-sia.

3. Hanya Mengharapkan pahala akhirat

Hidup di dunia bersifat sementara. Sedang akhirat selamanya. Dalam beribadah seyogyanya orientasi utamanya adalah kebahagiaan akhirat. Karena kenikmatan dunia bagai sebutir debu jika dibandingkan kenikmatan akhirat. Karena itu, orang yang ikhlas akan selalu berorientasi akhirat pada semua ibadahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: radarbengkulu