Merawat Hati, Menggapai Ridha Ilahi

Merawat Hati, Menggapai Ridha Ilahi

Dr. Ujang Mahadi M.Si-Adam-radarbengkulu

2. Hati sebagai Tempat Bertumpunya Niat

Setiap amal manusia dinilai berdasarkan niatnya. Niat adalah amalan hati yang [3] hanya diketahui oleh Allah. Rasulullah saw., bersabda:

 

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dari hadits ini, jelas bahwa niat menjadi dasar sah atau tidaknya suatu amal. Jika niat yang tumbuh dalam hati adalah karena Allah, maka amal tersebut akan bernilai ibadah. Sebaliknya, jika niatnya tercampur dengan riya’ atau untuk kepentingan dunia, maka amal tersebut kehilangan keberkahannya.

 

3. Hati sebagai Cerminan Amal Perbuatan

Hati yang bersih akan melahirkan perbuatan baik, sedangkan hati yang kotor akan mendorong seseorang kepada maksiat dan kezoliman. Rasulullah saw., bersabda:

 

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

 

“Ketahuilah, di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuh. Tetapi, bila segumpal daging itu rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu bernama qolbu” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: radarbengkulu