Menteri Agama Minta Tim Hisab Rukyat jadi Jembatan Persatuan Umat
Menag Nasaruddin Umar (kiri) dan Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad (kanan) saat Pengukuhan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Tahun 2026-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama 2026 menjadi jembatan persatuan umat dalam penetapan awal bulan Hijriah, termasuk menjelang sidang isbat Idul Adha 1447 Hijriah.
Seperti dikutip dari laman kemenag.go.id, menurut Nasaruddin Umar, perbedaan penetapan hari besar keagamaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Melainkan, harus dikelola melalui dialog, pendekatan ilmiah, dan semangat kebersamaan.
BACA JUGA:Wakil Ketua DPR Dorong Guru Honorer Segera Diangkat Jadi ASN, Indonesia Darurat Guru
“Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia bukan sekadar urusan kalender, tetapi menyangkut keyakinan dan kebersamaan sosial umat. Karena itu, tim ini memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan keputusan yang kuat secara syar’i sekaligus saintifik,” ujar Menag saat mengukuhkan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Tahun 2026, Selasa (12/5/2026).
Nampak hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Mahkamah Agung, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain itu, turut bergabung unsur organisasi kemasyarakatan Islam, unsur pimpinan pondok pesantren, dan tokoh-tokoh falak perempuan.
Menurut Menag, keberadaan Tim Hisab Rukyat merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan kepastian hukum terkait ibadah umat Islam melalui pendekatan yang dialogis dan inklusif.
“Kementerian Agama mengedepankan dialog dan sinergi. Perbedaan metode yang berkembang di masyarakat harus dipertemukan melalui ruang komunikasi yang sehat demi kemaslahatan bersama,” lanjutnya.
Kemudian, Menag juga menekankan pentingnya peran Tim Hisab Rukyat sebagai jembatan informasi kepada masyarakat. Ia menilai, perbedaan penetapan hari besar keagamaan kerap dipengaruhi kurangnya pemahaman publik terhadap metode hisab dan rukyat yang digunakan.
“Tim ini harus menjadi jembatan informasi. Ketegangan sering muncul karena masyarakat tidak memahami proses dan metode yang digunakan dalam penentuan awal bulan Hijriah,” katanya.
Menag meminta seluruh unsur tim untuk terus mengedepankan pendekatan moderasi beragama dalam setiap proses pengambilan keputusan. “Astronomi adalah sains yang presisi, tetapi dalam konteks kehidupan berbangsa, data dan perhitungan itu harus diramu menjadi kebijakan yang menyejukkan serta menjaga harmoni umat,” jelasnya.
Lalu, ia juga mendorong penguatan sinergi lintas sektor antara pemerintah, ilmuwan, dan organisasi masyarakat Islam agar hasil pengamatan hilal dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun keagamaan.
“Koordinasi antara BRIN, para pakar astronomi, kiai, dan ahli falak ormas Islam harus terus diperkuat agar hasil yang kita capai benar-benar akurat dan dipercaya masyarakat,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
