Dollar Terbang Tinggi, Rupiah di Titik Terendah

Dollar Terbang Tinggi, Rupiah di Titik Terendah

Yenni Natalia Sannius Marbun, mahasiswi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu -Ist-

 

Oleh: Yenni Natalia Sannius Marbun, mahasiswi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu 

Radar Bengkulu - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Dalam beberapa bulan terakhir, kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terus melemah hingga menembus level psikologis Rp 17.000 per dollar AS. Bahkan, pada Mei 2026, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp 17.500 per dollar AS, level terendah sepanjang sejarah modern Indonesia. 

Pelemahan ini bukan sekadar angka di layar pasar keuangan. Ia adalah sinyal bahwa fondasi ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan serius, baik dari faktor global maupun domestik. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa strategi jangka panjang yang kuat, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang impor, inflasi, hingga menurunnya daya beli.

BACA JUGA:Pembongkaran Saung Pantai Panjang Masuk Meja DPRD Kota Bengkulu

Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh ketidakpastian global, tingginya suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik Timur Tengah, dan meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri. Namun, publik tentu tidak bisa hanya menerima penjelasan bahwa semua ini semata-mata akibat faktor eksternal.

Sebab, negara-negara berkembang lain juga menghadapi tekanan global yang sama, tetapi tidak semuanya mengalami depresiasi sedalam Indonesia. Di sinilah pertanyaan penting muncul: seberapa kuat sebenarnya kepercayaan pasar terhadap ekonomi nasional?

Kepercayaan investor merupakan fondasi utama stabilitas mata uang. Ketika pasar melihat adanya ketidakpastian kebijakan, pelebaran defisit, atau lemahnya konsistensi arah ekonomi pemerintah, maka modal asing akan keluar dan dollar AS semakin diburu. Akibatnya, rupiah terus tertekan.

Kondisi ini diperparah oleh struktur ekonomi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor, terutama bahan baku industri, energi, hingga teknologi. Ketika dollar menguat, biaya produksi otomatis naik. Dunia usaha akan menaikkan harga barang, dan masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Di sisi lain, pemerintah dan BI memang telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, seperti intervensi pasar valuta asing dan penguatan instrumen moneter. Gubernur BI Perry Warjiyo bahkan menyatakan bahwa rupiah sebenarnya berada di bawah nilai fundamental ekonomi Indonesia atau undervalued. Akan tetapi, pasar tidak hanya melihat pernyataan optimistis, melainkan juga konsistensi kebijakan dan keberanian melakukan reformasi ekonomi.

Yang lebih mengkhawatirkan, pelemahan rupiah berpotensi menciptakan efek psikologis di masyarakat. Ketika publik mulai kehilangan keyakinan terhadap stabilitas ekonomi, perilaku menahan konsumsi dan membeli aset aman seperti emas atau dollar akan meningkat. Jika dibiarkan, situasi ini bisa mempercepat perlambatan ekonomi domestik.

Indonesia tentu pernah menghadapi krisis yang lebih berat, terutama pada 1998. Namun, sejarah mengajarkan bahwa pelemahan mata uang tidak boleh dianggap sebagai persoalan teknis semata. Ia adalah cermin dari kesehatan ekonomi, kredibilitas kebijakan, dan kepercayaan publik terhadap negara.

Karena itu, solusi menjaga rupiah tidak cukup hanya melalui intervensi pasar jangka pendek. Pemerintah perlu memperkuat sektor produksi nasional, mengurangi ketergantungan impor, menjaga disiplin fiskal, serta memastikan kepastian hukum dan investasi tetap terjaga. Tanpa langkah tersebut, rupiah akan terus rentan terhadap setiap guncangan global.

Rupiah bukan sekadar alat transaksi. Ia adalah simbol kedaulatan ekonomi bangsa. Ketika nilainya terus melemah, yang dipertaruhkan bukan hanya angka kurs, tetapi juga kepercayaan terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: