Kurangnya Etika Dalam Rapat DPRD Dan Dampaknya terhadap Kepercayaan Publik

Kurangnya Etika Dalam Rapat DPRD Dan Dampaknya terhadap Kepercayaan Publik

Kurangnya Etika Dalam Rapat DPRD Dan Dampaknya terhadap Kepercayaan Publik-Ist-

Prodi :Jurnalistik

Fakultas :ilmu sosial dan politik

Universitas :BENGKULU

Nama :RICHARD ALHAFIZ

NPM :D1C025071

Pemberitaan anggota DPRD Bemain HP sambil merokok 

Sumber:@officialinewstv

 

DPRD, singkatan yang mungkin sudah terlalu akrab di telinga kita, adalah lembaga legislatif daerah yang tugasnya bejibun. Tiga fungsi utama yang mereka emban, mulai dari mengawasi jalannya pemerintahan, mengelola anggaran, sampai bikin peraturan daerah. Para anggotanya dipilih langsung lewat pemilu, artinya masyarakat sendiri yang naruh kepercayaan dan menitipkan harapan di pundak mereka. Bukan titipan sembarangan, ini amanah. Jadi wajar kalau publik awasi betul-betul bagaimana mereka bertingkah, karena secara teori, mereka adalah cerminan dari rakyat yang diwakilinya.

Tapi yang terjadi di lapangan, aduh, kadang bikin geleng kepala. Ada saja momen di mana anggota dewan ketahuan asyik utak-atik HP di tengah sidang, bahkan sambil kepulan asap rokok mengepul bebas di ruangan resmi. Kelakuan macam begini bukan cuma soal sopan santun, melainkan sudah menyentuh persoalan harga diri lembaga. Kalau orang yang dipilih rakyat aja ogah serius, siapa yang mau berjuang buat kepentingan publik.

Tulisan ini hendak mengupas lebih dalam soal fenomena tersebut, apa dampaknya buat nama baik DPRD, gimana respons masyarakat, dan kenapa etika itu sesungguhnya bukan hal remeh dalam dunia politik dan tata pemerintahan.

Tugas dan Tanggung Jawab Anggota DPRD

Posisi wakil rakyat itu berat, sungguh berat. Bukan sekadar duduk di kursi empuk gedung dewan. Mereka wajib meramu peraturan daerah, mengintip dan mengontrol jalannya pemerintahan, plus menangkap dan menyuarakan keluhan-keluhan masyarakat yang mungkin tak pernah sampai ke telinga bupati atau walikota. Dalam forum sidang, persoalan yang dibahas tak kaleng-kaleng, mulai dari nasib infrastruktur jalan yang bolong-bolong, mutu pendidikan, fasilitas kesehatan, sampai kesejahteraan warga yang masih jauh dari kata layak.

Rapat DPRD itu ruang sakral, atau setidaknya harusnya begitu. Forum di mana keputusan-keputusan besar lahir, tempat di mana suara rakyat seharusnya bergema. Maka setiap anggota yang duduk di sana dituntut hadir bukan cuma secara fisik, tapi juga secara pikiran. Bermain HP seenaknya, atau malah mengepulkan rokok sambil setengah memejamkan mata, jelas bukan gambaran dari seseorang yang sedang bekerja untuk orang banyak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: