Indonesia Hadapi Ancaman Diabetes, 70 Persen Kasus Tak Terdeteksi Picu Risiko Buta

 Indonesia Hadapi Ancaman Diabetes, 70 Persen Kasus Tak Terdeteksi Picu Risiko Buta

Melalui inisiatif DRIVE, sistem skrining berbasis tele-ophthalmology kini tengah diuji di empat wilayah Indonesia untuk mempercepat deteksi-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id, Jakarta -- Indonesia menghadapi ancaman serius akibat diabetes melitus. Negara ini kini menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak dan diproyeksikan memiliki lebih dari 23 juta kasus pada 2030.

Seperti dikutip dari laman disway.id, ironisnya, sebagian besar penderita belum mengetahui dirinya mengidap penyakit tersebut, sehingga Indonesia menghadapi ancaman serius akibat diabetes melitus. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik di Jakarta.

BACA JUGA:Yusril: KUHAP Baru Tak Wajibkan Penahanan

Melalui Konsorsium DRIVE, berbagai pihak mengembangkan proyek tele-ophthalmology nasional untuk memperluas skrining retina, melatih tenaga kesehatan primer, serta mendukung target Kementerian Kesehatan menurunkan gangguan penglihatan hingga 25 persen pada 2030. 

Menurut Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD,  jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), jumlahnya telah melampaui 20 juta orang pada 2023 dan diperkirakan mencapai 22–23 juta saat ini, bahkan berpotensi menembus lebih dari 30 juta pada 2045.

Sedangkan yang lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 73 persen penderita diabetes belum terdiagnosis. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah muncul komplikasi serius seperti gagal ginjal, penyakit jantung, hingga gangguan penglihatan.

“Diabetes yang tidak terkontrol akan mempercepat kerusakan organ. Semakin tinggi gula darah, semakin cepat komplikasi berkembang. Selain gula darah, tekanan darah tinggi, kolesterol, obesitas, dan kebiasaan merokok juga memperburuk kondisi,” ujar Yunir di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026 

Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Universitas Gadjah Mada, Prof. Muhammad Bayu Sasongko, menyebut retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling sering terjadi, tetapi justru paling jarang disadari masyarakat.

Lebih lanjut ia mengestimasi sekitar 5,2 juta penyandang diabetes di Indonesia telah mengalami retinopati diabetik. Penyakit ini sulit dikenali karena kerusakan terjadi di retina dan tidak mengubah tampilan luar mata, sehingga penderita merasa penglihatannya masih normal pada tahap awal.

“Retinopati diabetik pada fase awal hampir tidak bergejala. Karena itu skrining rutin sangat penting agar kerusakan retina dapat ditemukan lebih dini sebelum berkembang menjadi gangguan penglihatan permanen atau kebutaan,” kata Prof Bayu. 

Kata Bayu lagi, sekitar 1,2 juta pasien bahkan telah membutuhkan penanganan lanjutan seperti terapi laser, suntikan obat ke mata, hingga operasi. 

Melalui inisiatif DRIVE, sistem skrining berbasis tele-ophthalmology kini tengah diuji di empat wilayah Indonesia untuk mempercepat deteksi, memperkuat sistem rujukan, dan memastikan pasien memperoleh pengobatan sebelum kehilangan penglihatannya.

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: