Perilaku Seksual Hubungan Sedarah

Jumat 12-09-2025,01:00 WIB
Reporter : Adam
Editor : Azmaliar Zaros

radarbengkuluonline.id -- Para pembaca  yang dimuliakan Allah Swt, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat  lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya, Perilaku Seksual Hubungan Sedarah.
 

Materi ini ditulis oleh Dr. H. Henderi Kusmidi, M.H.I. Ia adalah dosen UIN FAS Bengkulu & Imam Masjid Besar Jami’ Babussalam Kota Bengkulu. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Jami' Babussalam,  Jalan P.Natadirja KM.8 Kelurahan Jalan Gedang Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu. 

Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.



Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah
Dalam khutbah kali khatib menyoroti isu-isu di jagat maya saat ini, sebagai bentuk penurunan moral yang menghebohkan publik, khususnya terkait terungkapnya komunitas “Grup Fantasi Sedarah” di media sosial Facebook.


 Khatib menekankan keprihatinan atas peran orang tua yang sudah sepatutnya menjadi pelindung, tetapi justru menyalahgunakan perannya dengan menjadikan anak sebagai objek seksualitas. 


Fenomena bentuk-bentuk penyimpangan seksual yang terjadi saat ini seperti cinta sejenis, hubungan sedarah anak dengan bapak, ibu dengan anak kandung, dengan sesama saudara sekandung, tidak terlepas dari peran dunia maya yang tanpa sadari menjadi realitas. 

 


Konten-konten di dalamnya, dapat diinterpretasikan dan divisualisasikan seolah-olah baik, namun berpotensi menyesatkan dan merusak generasi penerus bangsa.

Para ahli mencoba menelusuri akar masalahnya, mengindikasikan bahwa perilaku menyimpang ini bermula dari trauma masa lalu atau kurangnya kasih sayang para pelaku di masa kecil. 

 


Ini adalah kegagalan psikologis di masa kecil yang berdampak besar. Penyebab utamanya adalah kedekatan media dengan anak-anak. Mereka melihat segala hal secara nyata, sehingga apa yang ditonton dianggap sebagai tuntunan dan dianggap biasa. 


Jika anak tidak diajarkan, dicontohkan atau dididik dengan nilai-nilai luhur ilahiyah, maka apa yang mereka serap dari lingkungan eksternal akan menjadi prinsip etika dan kebiasaan.

 

Keluarga semakin abai dengan nilai-nilai agama, jangan sampai kita terjebak pada satu kesalahan yang sama, seolah-olah agama hanya soal kepakaran yang notabene dari keilmuan Islam.


Atas dasar dalil itu, orang tua tidak berkeinginan untuk memahami Al-Qur'an. Padahal nilai-nilainya untuk diajarkan justru diabaikan.

 

Kategori :