“Kami akan bertemu lagi minggu depan. Semua informasi harus terbuka agar keadilan ditegakkan,” kata Helmi.
Menurutnya, transparansi adalah kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan di Bengkulu. Ia berharap, kasus ini menjadi pembelajaran bersama agar praktik curang tidak lagi terjadi di sekolah manapun.
Di akhir pertemuan, Helmi menutup dengan pesan menyentuh. Ia menyebut sekolah sebagai rumah kedua bagi anak-anak. “Kalau rumah pertama adalah keluarga, maka sekolah adalah rumah kedua mereka. Tugas kita menjaga agar rumah itu tetap aman dan nyaman,” ujarnya.(Wij)