Pengirim: Siti wahyuni, prodi S1 keperawatan, fakultas ilmu kesehatan, Universitas, dharmas Indonesia)
RADAR BENGKULU – Media sosial telah menjelma menjadi ruang hidup kedua bagi remaja. Di tengah derasnya arus digital, platform seperti Instagram, TikTok, Twitter, dan YouTube tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga tempat membangun relasi, mengekspresikan diri, bahkan membentuk cara pandang terhadap dunia. Hampir setiap hari, remaja menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar, menyerap informasi, dan berinteraksi dalam ruang maya yang tak berbatas. Fenomena ini menandai betapa besar pengaruh media sosial terhadap pola pikir generasi muda saat ini.
Tak dapat disangkal, media sosial membawa banyak manfaat. Akses informasi menjadi jauh lebih mudah dan cepat. Remaja dapat belajar secara mandiri, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, hingga isu-isu sosial dan budaya. Media sosial juga membuka ruang kreativitas. Melalui konten digital—baik berupa tulisan, foto, maupun video—remaja dapat menyalurkan ide, bakat, dan ekspresi diri. Dalam batas tertentu, hal ini mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan keterampilan komunikasi yang dibutuhkan di era modern.
Selain itu, media sosial memperluas jaringan sosial remaja. Mereka dapat berinteraksi dengan teman sebaya, komunitas dengan minat yang sama, bahkan tokoh-tokoh inspiratif. Interaksi ini berpotensi menumbuhkan empati, toleransi, dan pemahaman terhadap keberagaman. Dalam konteks ini, media sosial dapat berperan sebagai ruang belajar sosial yang penting bagi perkembangan karakter remaja.
Namun, di balik peluang tersebut, tersimpan sisi lain yang patut dicermati. Media sosial kerap menampilkan gambaran kehidupan yang serba ideal. Penampilan sempurna, prestasi gemilang, dan gaya hidup yang tampak mudah diraih seolah menjadi standar baru. Remaja yang belum memiliki kematangan emosional sering kali membandingkan dirinya dengan realitas digital tersebut. Akibatnya, muncul rasa tidak puas, minder, bahkan tekanan psikologis. Pola pikir remaja pun perlahan dibentuk bukan oleh pengalaman nyata, melainkan oleh representasi digital yang belum tentu mencerminkan kenyataan.
Masalah lain yang mengemuka adalah ketergantungan pada validasi sosial. Jumlah like, komentar, dan pengikut kerap dijadikan tolok ukur nilai diri. Ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, sebagian remaja merasa kecewa, cemas, atau kehilangan kepercayaan diri. Orientasi hidup pun bergeser: dari pengembangan diri yang autentik menuju pencarian pengakuan eksternal. Dalam jangka panjang, pola pikir semacam ini dapat menghambat pertumbuhan mental dan emosional remaja.
Media sosial juga memengaruhi cara remaja memproses informasi. Arus informasi yang cepat dan melimpah sering kali tidak diiringi dengan akurasi. Hoaks, misinformasi, dan opini yang menyesatkan mudah tersebar. Tanpa kemampuan literasi digital yang memadai, remaja berisiko membentuk pandangan yang keliru, bahkan ekstrem. Pola pikir yang dibangun di atas informasi yang tidak terverifikasi dapat memicu prasangka, sikap reaktif, dan pengambilan keputusan yang tidak rasional.
Aspek psikologis turut memperkuat pengaruh tersebut. Paparan konten negatif, kekerasan, atau ujaran kebencian dapat meningkatkan stres dan kecemasan. Sementara itu, konten yang menonjolkan gaya hidup konsumtif berpotensi menggeser nilai-nilai remaja dari kesederhanaan dan empati menuju materialisme. Media sosial, dengan demikian, tidak hanya membentuk cara remaja berpikir, tetapi juga memengaruhi nilai dan sikap hidup mereka.
Dalam situasi ini, peran lingkungan menjadi sangat krusial. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping, bukan sekadar pengawas. Dialog terbuka tentang konten yang dikonsumsi remaja jauh lebih efektif daripada larangan sepihak. Sekolah pun memiliki peran strategis melalui pendidikan literasi digital dan penguatan kemampuan berpikir kritis. Lingkungan pertemanan juga seharusnya menjadi ruang saling mengingatkan, bukan justru memperkuat tekanan sosial.
Lebih dari sekadar pengawasan, remaja perlu dibekali keterampilan mengelola diri. Kesadaran akan emosi, kemampuan menetapkan batasan, serta pemahaman terhadap konsekuensi penggunaan media sosial menjadi bekal penting agar mereka tidak terjebak dalam arus digital yang melelahkan. Dengan kesadaran ini, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai alat pengembangan diri, bukan sumber kecemasan.
Pada akhirnya, media sosial adalah pisau bermata dua. Ia dapat membuka peluang belajar dan berekspresi, namun juga berpotensi membentuk pola pikir yang rapuh jika digunakan tanpa kendali. Tantangan kita hari ini bukanlah menjauhkan remaja dari media sosial, melainkan membimbing mereka agar mampu menggunakannya secara bijak. Dengan literasi digital, pendampingan, dan kesadaran diri, remaja dapat tumbuh menjadi generasi yang kritis, sehat secara mental, dan mampu memaknai dunia digital tanpa kehilangan jati diri.
BACA JUGA:Flexing di Media Sosial dan Luka Sunyi Remaja Kita