Analisis Netizen Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Desa Merah Putih

Kamis 26-02-2026,14:08 WIB
Reporter : radar
Editor : radar

Menurut narasi tersebut, KDMP bukanlah sekadar usaha warung kelontong desa, melainkan unit bisnis yang harus beroperasi dengan target omzet harian tinggi. Itu pun belum memperhitungkan biaya gaji pegawai, operasional rutin, serta pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU).

 

Skenario Risiko Gagal Bayar

Narasi warganet tersebut juga memaparkan tiga skenario risiko kredit macet yang berpotensi terjadi:

 

**1. Macet Ringan**

Koperasi hanya mampu menghasilkan laba Rp35 juta per bulan. Terjadi defisit Rp15 juta per bulan atau Rp180 juta per tahun, yang berpotensi memicu restrukturisasi kredit.

 

**2. Macet Sedang**

Koperasi hanya mampu membayar Rp25 juta per bulan. Defisit mencapai Rp300 juta per tahun. Kondisi ini dapat menekan arus kas, memicu saling menyalahkan di internal pengurus, serta menggerus kepercayaan anggota.

 

**3. Gagal Total**

Koperasi tidak menghasilkan laba sama sekali. Kerugian mencapai Rp600 juta per tahun, bunga tetap berjalan, dan kredit berstatus bermasalah.

 

Dampak terhadap Keuangan Desa

Narasi tersebut juga mengaitkan risiko KDMP dengan kondisi keuangan desa yang ruang fiskalnya dinilai semakin terbatas. Jika pada akhirnya desa harus ikut menopang atau terdampak skema pembiayaan koperasi, misalnya melalui penggunaan dana desa untuk menutup kewajiban, maka sejumlah program pembangunan berpotensi terdampak.

Kategori :