radarbengkuluonline.id, Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa situasi terkait Iran berjalan sangat baik. Ia juga mengumumkan tentang dimulainya dialog dengan Teheran. Trump bahkan menyatakanpenundaan serangan terhadap infrastruktur energi negara tersebut.
Seperti dikutip dari laman harian disway, hal itu ditegaskan Trump ketika diwawancarai kantor berita Agence France-Presse.
BACA JUGA:Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Akan Bayar Iuran Board of Peace
Sebelumnya, Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menggelar dialog yang baik dan produktif selama dua hari terakhir. Trump mengklaim pembicaraan itu mengarah pada resolusi penuh konflik di Timur Tengah.
“Berdasarkan pembicaraan tersebut, yang akan berlanjut sepanjang minggu ini, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda seluruh serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari,” tulis Trump.
Kata Trump, dialog itu dilakukan dengan salah seorang petinggi Iran, tetapi bukan pimpinan tertinggi. Tentu saja, langkah itu menunjukkan perubahan sikap yang cukup tajam. Sebelumnya, pada pekan keempat perang, Trump menolak opsi negosiasi dengan Iran. Bahkan, ia sempat mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Ancaman tersebut memiliki tenggat waktu dua hari dan akan berakhir pada Senin malam, 23 Maret 2026, waktu Washington atau Selasa dini hari di Teheran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun, klaim Trump soal adanya pembicaraan langsung segera dibantah oleh pihak Iran. Media pemerintah Iran, mengutip kementerian luar negeri, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Washington.
“Tidak ada pembicaraan antara Teheran dan Washington,” tegas kantor berita Mehr. Pernyataan Trump disebut sebagai bagian dari upaya untuk menekan harga energi global.
Pengumuman Trump memang datang di tengah tekanan ekonomi global yang meningkat. Harga minyak dunia sempat melonjak tajam, memicu kekhawatiran pasar dan berdampak pada penurunan bursa saham di Eropa dan Asia. Namun, kabar soal kemungkinan diplomasi langsung membuat harga minyak turun signifikan menjelang pembukaan Wall Street.
Kenaikan harga energi menjadi isu sensitif bagi Trump di dalam negeri. Warga Amerika mulai merasakan dampaknya melalui kenaikan harga bahan bakar, menjelang pemilu paruh waktu pada November yang akan menentukan komposisi Kongres.
Sebelumnya pada Jumat, 20 Maret 2026, Trump sempat menyatakan sedang mempertimbangkan untuk mengurangi intensitas perang. Ia juga menyebut kemungkinan menyerahkan tanggung jawab menjaga Selat Hormuz kepada NATO yang sejauh ini belum menunjukkan komitmen penuh.
Namun sehari kemudian, Trump kembali meningkatkan tekanan dengan menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali selat tersebut. Iran diketahui sempat menutup sebagian jalur itu sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel sejak 28 Februari 2028. Serangan awal tersebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Hingga kini, Iran tetap menunjukkan sikap menantang. Teheran memperingatkan bahwa jika serangan dilanjutkan, mereka akan menargetkan infrastruktur vital di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi dan instalasi desalinasi yang krusial bagi negara-negara di wilayah tersebut. Situasi itu menempatkan konflik di ambang eskalasi baru, di tengah klaim diplomasi yang masih jadi tanda tanya.