Ini Cara Aman Mengurangi Konsumsi Makanan Manis
Ini Cara Aman Mengurangi Konsumsi Makanan Manis-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id, Jakarta - Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula di Indonesia masih menjadi perhatian serius para ahli kesehatan.
Seperti dikutip dari laman disway.id, kebiasaan mengonsumsi asupan manis secara berlebihan tidak lagi hanya ditemukan pada orang dewasa, tetapi juga mulai terbentuk sejak usia balita akibat pola makan yang diterapkan di lingkungan keluarga. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas, gangguan metabolisme, hingga terbentuknya ketergantungan terhadap gula sejak usia dini.
BACA JUGA:Pemerintah Siapkan Dana Rp 1,2 Triliun untuk Bantuan Pangan Korban Gempa NTT
Menurut hasil survei yang dilakukan Universitas Islam Bandung (UNISBA), sebanyak 67,6 persen orang tua di Indonesia diketahui masih memberikan kental manis kepada balita sebagai pengganti asupan susu harian. Padahal, kental manis bukanlah produk yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi utama anak dalam masa pertumbuhan. Produk ini lebih tepat digunakan sebagai pelengkap makanan atau minuman karena mengandung kadar gula yang tinggi.
Kecanduan Gula Bisa Dimulai Sejak Balita
Spesialis Gizi Klinik dr. Igus Ulfa Yaze Sp.GK, menjelaskan bahwa paparan gula berlebih sejak usia dini dapat memengaruhi pola kerja otak dan tubuh anak. Menurutnya, konsumsi makanan atau minuman dengan kadar gula tinggi secara terus-menerus dapat memicu lonjakan gula darah sekaligus membentuk kebiasaan yang mengarah pada kecanduan gula.
Nah, fenomena ini sering kali tidak disadari karena dianggap sebagai kebiasaan makan biasa. Padahal, tubuh sebenarnya sedang memberikan sinyal bahwa ada ketergantungan terhadap rasa manis. Salah satu gejala yang paling sering muncul adalah perasaan belum puas setelah makan apabila tidak disertai makanan atau minuman manis.
"Misalnya setelah makan masih ingin mengonsumsi makanan manis. Jika tidak terpenuhi, rasanya seperti ada yang kurang atau suasana hati menjadi tidak nyaman. Itu sudah menjadi salah satu tanda kebiasaan konsumsi gula yang berlebihan," ujar dr. Yaze.
Kental Manis Dinilai Mempercepat Pola Ketergantungan
Kata dr. Yaze, kebiasaan memberikan kental manis kepada balita dapat mempercepat terbentuknya pola konsumsi gula yang tinggi. Pasalnya, tubuh dan sistem saraf anak akan terbiasa menerima asupan gula dalam jumlah besar secara rutin.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membentuk preferensi rasa yang membuat anak lebih menyukai makanan dan minuman manis dibandingkan makanan bergizi lainnya. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya membangun pola makan sehat sejak usia dini.
Jangan Hentikan Konsumsi Gula Secara Mendadak
Walaupun konsumsi gula berlebih memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, dr. Yaze mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menghentikan asupan gula secara ekstrem atau menerapkan metode cold turkey. Mengurangi gula secara mendadak justru dapat memicu perubahan suasana hati, rasa gelisah, hingga kecemasan karena tubuh mengalami proses adaptasi yang terlalu cepat.
"Jika langsung dihentikan, sebagian orang bisa mengalami perubahan mood sepanjang hari karena tubuh sudah terbiasa mendapatkan asupan gula," jelasnya.
Sebagai solusi yang lebih aman, dr. Yaze menyarankan pengurangan kadar gula dilakukan secara bertahap setiap hari.
Cara ini dinilai lebih efektif karena memberikan kesempatan bagi tubuh untuk menyesuaikan diri secara alami tanpa menimbulkan tekanan fisik maupun psikologis.
"Biasanya saya menyarankan tingkat kemanisan dikurangi sedikit demi sedikit setiap hari. Dengan begitu tubuh akan mulai beradaptasi dan mengenali kadar gula yang lebih rendah," katanya.
Dengan melalui proses tersebut, sensitivitas indera pengecap dan sistem saraf terhadap rasa manis akan kembali normal. Seiring waktu, keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula juga akan berkurang sehingga membantu menekan risiko penyakit metabolik, diabetes, hingga obesitas di masa mendatang.
Para ahli pun menekankan pentingnya edukasi kepada orang tua mengenai pola konsumsi gula yang sehat, terutama pada anak-anak. Langkah sederhana seperti membatasi minuman manis, Mengurangi penggunaan kental manis sebagai pengganti susu, serta memperbanyak konsumsi makanan alami dapat menjadi investasi kesehatan jangka panjang bagi generasi mendatang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
