Realitas Sociomateriality Ditengah Kemajuan Teknologi Informasi

Realitas Sociomateriality Ditengah Kemajuan Teknologi Informasi

Wanfau, S.Sos--

Oleh: Wanfau, S.Sos (Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu)

RADARBENGKULUONLINE - ‘Waspada dan bijaklah di dunia maya’. Jika dunia ini merupakan panggung sandiwara dalam kepercayaan orang-orang yang yakin dengan akhirat, maka dunia maya adalah panggung tipudayanya atau dunia tipu-tipu sesungguhnya.

Wanda J Orlikowski seorang Profesor sekaligus peneliti sistem informasi asal Massachusetts Institute of Technology – Amerika, tahun 2012 lalu mengemukakan teori atau konsep Sociomateriality.

Menurut Wanja, Sociomateriality merupakan fenomena saat manusia dan teknologi komunikasi yang telah menyatu, saling berinteraksi dan mempengaruhi satu dengan yang lainnya. 

Perkembangan teknologi informasi atau internet, mendorong akselerasi dan inovasi industri berbasis mesin ke industri berbasis teknologi informasi atau dunia maya. 

Pun demikian dalam dunia komunikasi global. Jaringan komunikasi nirkabel awalnya mulai digunakan pada awal 1969, yang kemudian digunakan secara massif oleh masyarakat umum sejak tahun 1990an.

Saat ini sekitar 95% dari semua informasi beredar, seluruhnya dapat diakses berkat adanya jaringan internet. Hal ini juga berimbas pada transformasi komunikasi individu masyarakat, ketersediaan informasi di ranah public (maya) hingga perkembangan pesat media sosial yang saat inipun sudah menjadi bagian dari industri digital paling diminati.

Dunia sekarang menjadi lebih kecil, dan ini karena internet yang membuat kita dapat menjangkau seluruh dunia hanya dengan menggunakan internet. Bahkan Sekarang kita dapat berkomunikasi dengan siapapun meski terpisah jarak yang sangat jauh.

Masa-masa tulis menulis surat juga sudah lama berlalu. Dahulu kita harus menunggu lama agar mendapatkan balasan atas pesan yang kita kirimklan. Namun semuanya kini berubah, berkat kemajuan teknologi informasi, yakni internet.

Namun, seperti semua perubahan teknologi utama, ada sisi positif dan negatif yang muncul dari perkembangan internet khususnya sosial media, yang acapkali tak dihiraukan.

Dampak positif:

- Internet menyediakan komunikasi yang efektif, mulai dari video call, teleconference bahkan kinipun sudah lahir era metaverse.

- Internet semakin mempermudah perkembangan bisnis dan transaksi, sehingga menghemat waktu dan memangkas cost akibat jarak, seperti layanan belanja online ataupun marketplace yang membuka peluang bagi semua orang.

- Semakin banyak pilihan saluran informasi bahkan cara untuk menikmatinya juga semakin banyak.

- Membuka bisnis cukup modal kemauan dan kecakapan teknologi. 

Sudah bukan rahasia umum, selama ini pelaku usaha yang baru merintis bisnis acapkali terkendala modal hingga pemasaran, khususnya promosi. Namun dengan akses internet, peluang membuka usaha baru kini makin terbuka luas bagi siapapun, bahkan tak perlu kemampuan khusus selain tekad dan kemauan, hingga kecakapan dalam mengadaptasi teknologi informasi.

Saat ini anda bisa dengan mudahnya menjadi reseller produk, tanpa harus memiliki modal untuk menyetok barang dagangan. Anda cukup memposting foto-foto produk dari produsen dan memasarkannya di dunia maya untuk mendapatkan konsumen yang bahkan sudah lintas negara bahkan benua.

- Anda dapat mengakses berita terbaru dari belahan dunia manapun hanya dalam hitungan detik sejak sebuah peristiwa terjadi. Sehingga semakin akrablah istilah dunia dalam genggaman, berkat layanan teknologi informasi ini.

- Banjirnya pilihan hiburan di dunia maya, mulai dari yang berbayar hingga sepenuhnya gratis (Netflix, weTV, youtube, tiktok dan berbagai aplikasi lainnya).

- Lahirnya ladang-ladang baru bisnis di sektor teknologi informasi ataupun hiburan dunia maya. Sebut saja sektor game online yang kini sudah menarik banyak investor bahkan secara resmi juga sudah banyak yang menjadi cabang olahraga resmi sejumlah event internasional.

Dampak negatif:

- Semakin banyak jebakan-jebakan informasi palsu yang berseliweran di dunia maya, yang juga seringkali berimbas pada pecahnya konflik sosial bahkan fisik di dunia nyata. Orang bisa saja tiba-tiba saling berkelahi, hanya karena misskomunikasi atau misinformasi di dunia maya, yang kemudian menjadi konflik terbuka di dunia nyata.

- Kearifan dan nilai-nilai budaya lokal semakin cepat pudar, bahkan bisa jadi sudah banyak yang hilang, akibat globalisasi budaya yang lahir karena hilangnya jarak didunia maya.

- Kecanduan media sosial yang semakin kronis. Kita bisa dengan mudah menemukan orang-orang di sekitar kita, yang tidak bisa atau tidak rela dipisahkan dari gadget mereka, kecuali saat mereka tidur. Kehilangan dompet dan uang jauh lebih bisa diterima, daripada kehilangan gadget ataupun akun sosial media.

- Hoax dan fake news menyerbu kehidupan kita sehari-hari tanpa ampun dan tanpa henti. Contohnya sering terlihat pada ibu-ibu rumah tangga ataupun masyarakat awam, yang sangat rentan terprovokasi.

- Semakin marak dan banyaknya kejahatan yang terjadi, karena kelengahan kita dalam menikmati internet atau sosial media. Mulai dari data diri yang diretas, dicuri atau disalahgunakan hingga pembobolan akun-akun perbankan yang harusnya dilindungi.

- Cyberbullying juga lahir, sejak berkembanganya dunia internet. Bahkan orang seringkali tidak sadar saat melakukannya.

- Kita semakin egois dan individualis. Tak bisa dipungkiri, perilaku kita saat ini semakin egois dan individualis. Fenomena yang kita selama ini hanya berkembang di perkotaan, saat ini bahkan berkembang hingga pelosok karena efek sosial media dan dunia maya. Semakin hari orang hanya semakin fokus pada dunia mereka masing-masing, entah dengan alasan ekonomi ataupun lainnya. Coba hitung berapa jumlah tetangga rumah atau sekitar tempat tinggal yang kamu kenal dan kamu tahu namanya atau kapan terakhir anda ngobrol ringan atau minum kopi bersama.

- Manusia semakin pragmatis. Saat ini seolah-olah tak ada prioriotas lain selain dari uang, ketenaran ataupun keuntungan. Nilai-nilai sosial lain semakin pudar, apakah itu gotong royong, solidaritas, ramah tamah atau lainnya. Melakukan kontak sosial secara langsung diasumsikan sebagai sesuatu yang ribet, tidak memberi keuntungan, membuang waktu bahkan dikatakan ketinggalan zaman.

- Media sosial ibarat dunia tipu-tipu. Sudah mahfum dibenak semua pengguna media sosial, sulit sekali untuk menemukan orisinalitas atau keaslian dan kejujuran dalam bermedia sosial. Idiom ‘dunia tipu-tipu’ untuk dunia maya, saat ini bukan lagi hal baru. Apa yang terlihat indah di media sosial, aslinya seringkali bertolak belakang. Apa yang terlihat cantik atau tampan di dunia maya, saat berjumpa acapkali membuat kecewa.

Jika dijabarkan seluruhnya, efek negatif media sosial mungkin tak akan habis dalam berhalaman-halaman. Namun yang jelas, kecenderungan orang-orang untuk melakukan segala sesuatunya sendiri atau melalui alat komunikasi untuk berinteraksi tanpa harus bertemu dan bertatap langsung, kini semakin luas dan ada disekitar kita.

Contoh kecil misalnya di kantor, semuanya punya kesibukan diluar pekerjaan mereka, yakni sibuk untuk ber-messenger ria atau sibuk dengan sosial media masing-masing. Kondisi serupa juga terjadi saat dirumah hingga di ruang publik seperti di angkutan umum, mayoritas sibuk dengan gadget mereka masing-masing dan lebih sering luput memperhatikan kondisi sekitarnya.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling hangat dan dirindukan semua orang, juga sudah kehilangan makna dan esensinya. Komunikasi dan interaksi sosial dalam sebuah keluarga, lingkungan baik di rumah maupun di kantor terkesan lebih egois dan individualis. 

Sudah jarang kita temukan komunikasi yang intens atau keterbukaan dalam keluarga, bahkan acapkali kita tidak tahu saat orang-orang terdekat mengalami sesuatu atau kemalangan. 

Seperti yang dikemukakan oleh Paus Brenedictus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia yang ke-45, teknologi memungkinkan untuk saling bertemu di luar batas-batas ruang dan budaya mereka sendiri, dengan menciptakan sebuah dunia yang sama sekali baru dari persahabatan-persahabatan pontensial.

Tapi pentinglah untuk selalu mengingat kontak virtual tidak dapat dan tidak boleh mengganti kontak manusiawi langsung dengan orang orang di setiap tingkat kehidupan kita. Secanggih apa pun teknologi yang bisa menciptakan komunikasi dan interaksi yang serba praktis, kontak langsung tetap merupakan fundamental bagi manusia. Interaksi dan komunikasi secara langsung akan menciptakan ikatan emosional antar manusia dan jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan komunikasi dan interaksi virtual yang tersaji hampir semua lini teknologi.(*) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: