Menipisnya Budaya Malu

Hanafi, S.Sos.I-Adam-radarbengkulu
Rasa malu juga merupakan bagian dan cabang dari keimanan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Iman memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaaha illallaah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hiban, dan Al Hakim).
Beberapa hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu bukanlah suatu yang buruk, bahkan sebaliknya, termasuk sifat mulia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, berkata : kata ‘al-haya’ yang artinya malu, berasal dari (satu kata dasar dengan) ‘al-hayat’ (kehidupan). Oleh karena itu, kadar rasa malu yang dimiliki oleh seseorang sangat tergantung dengan kadar hidupnya hati.
Sedikitnya rasa malu merupakan indikasi hati telah mati. Semakin hidup hati seseorang, maka rasa malunya akan semakin sempurna, dan matinya hari seseorang, dapat dilihat dari menipisnya rasa malu yang dimiliki oleh orang tersebut.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Ada 3 (tiga) sifat malu yang harus dimiliki oleh manusia, apabila hidupnya ingin selamat.
1. Malu kepada Allah
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya : “Malulah kalian kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Kemudian Nabi ditanya, “Bagaimana caranya malu kepada Allah ?” Rasulullah SAW menjawab, “Siapa yang menjaga kepala dan isinya, perut dan makanannya, meninggalkan kesenangan dunia, dan mengingat mati, maka dia sungguh telah memiliki rasa malu kepada Allah Ta'ala.”
Dalam hadits ini, Nabi menjelaskan bahwa tanda seseorang memiliki rasa malu kepada Allah adalah menjaga anggota tubuh dan panca indera, agar tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah, mengingat kematian, tidak panjang angan-angan, dan tidak sibuk dengan kesenangan syahwat, serta larut dalam gemerlap kehidupan dunia, sehingga lalai dari akhirat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: radarbengkulu