Piala Dunia 2030 Berpotensi Diikuti 66 Negara

 Piala Dunia 2030 Berpotensi Diikuti 66 Negara

Presiden FIFA, Gianni Infantino mempertimbangkan proposal untuk memperluas jumlah peserta menjadi 66 negara, jauh lebih banyak dibanding format 48 tim yang akan digunakan pada Piala Dunia 2026-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id, Jakarta  -- FIFA dikabarkan tengah mempertimbangkan proposal untuk memperluas jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 66 negara, dari pada format 48 tim yang akan digunakan pada Piala Dunia 2026. Jika ini teralisasi, maka berpotensi menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah sepak bola.

Seperti dikutip dari laman disway.id yang melansir Goal International, wacana tersebut mulai mendapat perhatian serius di internal FIFA setelah adanya dorongan dari CONMEBOL yang ingin membuka peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk tampil di panggung sepak bola dunia.

BACA JUGA:Presiden Prabowo Targetkan Ekonomi RI Tumbuh 6,5 Persen pada 2027

Presiden FIFA Gianni Infantino, disebut mendukung gagasan perluasan ini sebagai bagian dari visi menjadikan Piala Dunia lebih inklusif dan mewakili seluruh kawasan dunia. Turnamen Piala Dunia 2026 sendiri akan menjadi edisi pertama yang menggunakan format 48 negara peserta. 

Kompetisi yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu bahkan diprediksi menghadirkan beberapa negara debutan seperti Uzbekistan, Yordania, Cape Verde, dan Curacao. Keberhasilan format 48 tim nantinya akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah FIFA benar-benar akan menambah jumlah peserta menjadi 66 negara pada tahun 2030.

Piala Dunia 2030 Bisa Bebani Tuan Rumah
Piala Dunia 2030 dijadwalkan berlangsung di Spanyol, Portugal, dan Maroko sebagai tuan rumah utama. Sementara laga pembuka perayaan akan digelar di Argentina, Uruguay, dan Paraguay. Namun, rencana ekspansi menjadi 66 tim dinilai dapat memberikan tekanan besar terhadap infrastruktur stadion, transportasi, hingga akomodasi di negara penyelenggara.

Beberapa kota tuan rumah bahkan mulai menghadapi ketidakpastian.  Malaga dilaporkan mundur dari proses pencalonan, sementara status stadion San Mames dan Reale Arena masih belum sepenuhnya aman untuk masuk daftar final venue Piala Dunia.

FIFA sendiri disebut belum akan mengambil keputusan final terkait format turnamen hingga Piala Dunia 2026 selesai digelar pada Juli mendatang.

FIFA Fokus Perluas Pasar dan Pendapatan Global
Di samping alasan inklusivitas, format 66 negara juga diyakini dapat meningkatkan pendapatan komersial FIFA secara signifikan. Lebih banyak pertandingan berarti peluang siaran televisi, sponsor, dan keterlibatan penggemar global akan semakin besar.

Walaupun demikian, sejumlah kritik mulai bermunculan. Banyak pihak menilai kualitas kompetisi bisa menurun jika terlalu banyak negara peserta yang levelnya belum kompetitif. Di sisi lain, isu kepadatan jadwal dan kesehatan pemain juga menjadi perhatian serius.

FIFA bahkan dilaporkan mulai mengurangi wacana penyelenggaraan Piala Dunia Klub dua tahunan karena dianggap membebani kalender sepak bola internasional. Meski begitu, untuk ajang Piala Dunia antarnegara, FIFA tampaknya tetap berambisi memperluas turnamen demi menjangkau lebih banyak negara dan pasar baru di seluruh dunia.

Kalau proposal ini disetujui, maka Piala Dunia 2030 akan mencetak sejarah sebagai turnamen sepak bola terbesar yang pernah digelar.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: