SOSIAL MEDIA MEMBUNUH RASA PERCAYA DIRIMU

SOSIAL MEDIA MEMBUNUH RASA PERCAYA DIRIMU

SOSIAL MEDIA MEMBUNUH RASA PERCAYA DIRIMU-Poto ilustrasi-

 

(Bona Rizky Hafidhurahman)

Mahasiswa S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu 

Radar Bengkulu online - Ada yang bergeser dari cara remaja sekarang memandang diri mereka sendiri. Bukan perubahan yang datang tiba-tiba, melainkan yang merayap pelan, nyaris tidak terasa, sampai suatu titik seseorang menyadari bahwa ia sudah terlalu lama merasa tidak cukup baik tanpa tahu sejak kapan itu dimulai.

Susah untuk tidak mengarahkan jari ke media sosial ketika bicara soal ini.

TikTok, Instagram, X, semuanya menawarkan satu hal yang sama yaitu arus konten tanpa ujung yang mengalir deras ke dalam keseharian tanpa pernah benar-benar berhenti. Mayoritas konten itu punya karakteristik serupa, hanya yang terbaik yang diunggah, hanya momen yang layak yang ditampilkan. Sisi lain kehidupan, kebingungan, kegagalan, hari-hari yang terasa stagnan, hampir tidak pernah muncul di beranda siapapun. Remaja yang setiap hari mengonsumsi gambaran seperti itu tanpa sadar mulai menjadikannya ukuran. Ketika ukuran itu tidak terpenuhi dalam kehidupan nyata, yang muncul bukan dorongan untuk bergerak, melainkan perasaan bahwa diri sendiri memang kurang. 

Bukan soal kontennya palsu. Orang yang mengunggah foto wisuda itu memang benar wisuda. Yang posting pencapaian kerja memang benar dapat kerja. Masalahnya ada di apa yang tidak ikut diunggah. Tidak ada yang membuat konten tentang berbulan-bulan tidak tahu mau ngapain. Tidak ada yang posting tentang hari-hari yang dihabiskan di dalam rumah tanpa kejelasan. Yang terlihat hanyalah hasil, tidak pernah prosesnya. Otak yang terus terpapar hasil tanpa proses lama-lama membangun gambaran yang tidak akurat tentang bagaimana hidup orang lain sebenarnya berjalan.

Universitas Siber Asia mencatat rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di media sosial dan internet. Angka itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Psikolog dari Universitas Indonesia menyebut pola konsumsi seperti ini doomscrolling, kondisi di mana seseorang terus menggulir layar meski otaknya sudah kelelahan memproses informasi. Algoritmanya memang bekerja persis untuk membuat orang tidak bisa berhenti.

Penulis sendiri pernah ada di titik yang cukup berat soal ini. Setahun sebelum masuk kuliah ada periode panjang di mana hari-hari terasa berjalan di tempat, mengurung diri di rumah tanpa kejelasan mau ke mana. Membuka media sosial waktu itu tidak membantu sama sekali. Melihat orang-orang seusia yang kelihatannya sudah bergerak dan punya arah justru membuat perasaan tertinggal itu makin menumpuk, malah membuat pikiran makin penuh dan ujung-ujungnya malah stres. Dari situ penulis paham betul bahwa dampaknya bukan sekadar teori yang dibahas di jurnal psikologi.

Comparison culture yang tumbuh dari kebiasaan ini efeknya merambat jauh. Remaja yang sudah terbiasa mengukur diri dari apa yang terlihat di layar, ketika masuk ke situasi sosial yang nyata, membawa kegelisahan yang sama. Ragu untuk bicara. Takut pendapatnya tidak cukup bagus. Lebih aman diam daripada tampil dan berisiko dinilai tidak memenuhi standar yang bahkan tidak pernah secara eksplisit ditetapkan oleh siapapun. Pelan-pelan ruang untuk menjadi diri sendiri menyempit, bukan karena tidak ada kemampuan, tapi karena kepercayaan diri sudah terkikis sebelum sempat digunakan.

Solusinya bukan berhenti pakai media sosial, itu tidak realistis. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa apa yang tampil di layar bukan cermin yang jujur. Setiap konten sudah melalui seleksi sebelum diunggah, sudah dipilih angle-nya, sudah diedit, sudah dipertimbangkan. Di balik satu foto yang terlihat sempurna ada banyak versi lain yang tidak lolos seleksi dan tidak pernah dilihat siapapun, pokoknya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Kepercayaan diri yang bertumpu pada validasi digital mudah goyah karena dasarnya tidak stabil. Sementara yang dibangun dari kesadaran bahwa setiap orang punya proses dan waktunya sendiri, tidak perlu disamakan, tidak perlu dikejar, justru yang lebih tahan lama. Generasi muda berhak sampai di pemahaman itu lebih cepat, sebelum terlalu lama menghabiskan energi untuk merasa kurang di depan layar orang lain.

Sumber:

Universitas Siber Asia. “Indonesia Juara Scrolling Medsos.” Diakses dari https://unsia.ac.id/indonesia-juara-scrolling-medsos/ 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: