Ketika Rupiah Tertekan, Rakyat Ikut Cemas

Ketika Rupiah Tertekan, Rakyat Ikut Cemas

Ketika Rupiah Tertekan, Rakyat Ikut Cemas-Poto ilustrasi-

 

Oleh: Nanda Kuncoro (Mahasiswa S1 Jurnalistik Universistas Bengkulu)

Selasa, 19 Mei 2026

Radar Bengkulu online - Melemahnya nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan publik. Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berada di bawah tekanan. Bagi sebagian orang, fluktuasi kurs mungkin hanya dianggap angka ekonomi yang lewat di layar televisi atau media sosial. Namun bagi masyarakat kecil, pelemahan rupiah perlahan terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Harga kebutuhan mulai merangkaknynaik, biaya hidup semakin berat, sementara penghasilan banyak masyarakat tetap berjalan di tempat. Situasi inilah yang membuat pelemahan rupiah bukan sekadar isu ekonomi, melainkan persoalan yang ikut memengaruhi rasa aman masyarakat terhadap kondisi hidup mereka.

Indonesia sebenarnya sudah berkali-kali menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Namun kali ini, kekhawatiran masyarakat terasa lebih besar karena kondisi ekonomi global juga sedang tidak menentu. Konflik geopolitik, ketegangan perdagangan internasional, hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat ikut memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketika dolar menguat, rupiah biasanya ikut melemah. Dampaknya langsung terasa pada barang-barang yang masih bergantung pada impor. Indonesia hingga hari ini masih mengandalkan banyak bahan baku dan produk dari luar negeri, mulai dari kebutuhan industri, obat-obatan, hingga perangkat teknologi. Saat kurs dolar naik, biaya impor otomatis ikut membengkak.

Akibatnya, produsen dalam negeri tidak punya banyak pilihan selain menaikkan harga jual. Pada akhirnya masyarakat kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Harga bahan pangan, elektronik, transportasi, bahkan kebutuhan sehari-hari perlahan ikut naik mengikuti tekanan ekonomi yang terjadi.

Kelompok masyarakat menengah ke bawah menjadi pihak yang paling rentan dalam kondisi seperti ini. Ketika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak ikut bertambah, daya beli masyarakat otomatis menurun. Banyak keluarga akhirnya harus lebih ketat mengatur pengeluaran demi memenuhi kebutuhan pokok.

Di sisi lain, tekanan ekonomi juga mulai dirasakan kalangan anak muda dan mahasiswa. Harga laptop, telepon genggam, dan perangkat pendukung pendidikan semakin mahal karena sebagian besar masih menggunakan komponen impor. Padahal, di era digital seperti sekarang, kebutuhan teknologi bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan utama.

Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya menunda membeli perangkat kuliah karena keterbatasan biaya. Bahkan bagi sebagian anak muda, rencana melanjutkan pendidikan ke luar negeri menjadi semakin sulit akibat tingginya biaya yang harus dibayar dengan mata uang asing.

Kondisi ini turut memengaruhi optimisme generasi muda terhadap masa depan. Di tengah ekonomi yang tidak stabil, lapangan kerja menjadi semakin kompetitif. Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi untuk menjaga kondisi bisnis mereka tetap bertahan. Dalam beberapa kasus, pengurangan tenaga kerja menjadi langkah yang tidak bisa dihindari.

Karena itu, pelemahan rupiah sebenarnya bukan isu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Dampaknya terasa langsung, mulai dari pasar tradisional hingga dunia pendidikan. Wajar jika masyarakat merasa cemas ketika nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan.

Di balik situasi global, pelemahan rupiah juga menjadi pengingat bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam memperkuat ekonomi nasional. Salah satu persoalan utama adalah tingginya ketergantungan terhadap barang impor. Selama kebutuhan dalam negeri masih banyak dipenuhi dari luar, tekanan terhadap dolar akan selalu berdampak besar bagi perekonomian Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: