Kalah Tipis dari Thailand, Indonesia Runner Up Pameran Anggrek Internasional
Delegasi Indonesia Rudy T. Mintarto bersama Ratna Wulan, istrinya, di depan display anggrek tanah air yang meraih juara 2 dalam Malaysia Highest Flower Exhibition 2026, 3-7 Juni 2026-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id, Malaysia - Tanah air kembali menorehkan prestasi di ajang Malaysia Highest Flower Exhibition 2026. Indonesia meraih posisi runner up pada lomba display landscape. Ajang itu digelar di Resort World Awana, Genting Highland, Malaysia, 3 Juni 2026.
Seperti dikutip dari laman harian disway, delegasi Indonesia bersaing dengan peserta dari berbagai negara Asia dalam pameran internasional yang berlangsung hingga 7 Juni itu. Thailand keluar sebagai juara pertama. Sedangkan posisi ketiga ditempati peserta dari Penang yang mewakili Kesultanan Sarawak.
BACA JUGA:Ini Cara Membuat Bakpao Kukus Lembut dan Enak
Sedangkan pameran itu sendiri diikuti peserta dari Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Indonesia. Thailand serta Singapura masing-masing mengirimkan dua peserta dalam kompetisi tersebut. Indonesia bukan pendatang baru dalam arena pameran anggrek dunia. Sejak 2010, Indonesia rutin mengikuti berbagai pameran internasional di berbagai negara.
Seperti Tiongkok, Jepang, Taiwan, Singapura, Malaysia, Australia hingga Eropa. Nama Rudy T. Mintarto hampir selalu menjadi wakil Indonesia dalam berbagai ajang tersebut. Dalam kategori display landscape, penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek utama: kreativitas, teknik pengerjaan, kualitas anggrek, komposisi dan harmonisasi, serta kesesuaian tema. Masing-masing aspek memiliki bobot nilai 20 poin.
Menurut Rudy, Thailand hampir selalu menjadi unggulan. Karena memiliki koleksi anggrek yang sangat beragam. Pun, mampu menampilkan jumlah bunga jauh lebih banyak dibanding peserta lain. "Pemerintah Thailand memberikan dukungan penuh kepada kami untuk tampil di pameran internasional. Karena anggrek merupakan salah satu sumber devisa negara," ujar Arm, landscaper Thailand yang juga atlet panjat tebing.
Dalam pameran tersebut, Indonesia menampilkan display seluas 32 meter persegi dengan konsep budaya Nusantara.
Tema yang diusung memadukan visual jaranan, tari remo, gandrung Banyuwangi, arsitektur candi, serta keindahan anggrek tropis.
Walaupun belum mampu menjadi juara pertama, capaian runner up dinilai sebagai prestasi membanggakan. Selama 15 tahun mengikuti kompetisi display internasional, Indonesia lebih sering menempati posisi ketiga. Di balik kemegahan pameran tersebut, terdapat fakta menarik mengenai penyelenggaraannya.
Ketua panitia Au Yong Kien Chung menggandeng sejumlah pengusaha di Genting Highland. Mereka mendukung pembiayaan acara secara gotong royong. Menurut Prof. Madya Dr. Manoar Mariapan, pakar ekowisata Malaysia, penyelenggaraan event seperti itu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi kawasan wisata.
"Hotel-hotel penuh. Banyak yang bahkan menolak tamu karena kamar habis. Pusat perbelanjaan juga ramai. Inilah fungsi sebuah event yang mampu menggerakkan ekonomi daerah," ujarnya.
Di balik raihan runner up tersebut, delegasi Indonesia menghadapi tantangan besar. Mereka tidak dapat membawa anggrek dari Indonesia. Karena rumitnya regulasi perizinan dan kepabeanan.
Win Selamat Riyadi, Wakil Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Tanah Laut, menjelaskan bahwa pengiriman anggrek ke luar negeri memerlukan izin dari berbagai instansi. Mulai Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup, BKSDA hingga Bea Cukai.
"Kami tidak mungkin membawa anggrek sendiri. Aturannya rumit dan mahal. Sering kali petugas juga tidak memahami perbedaan antara anggrek hasil persilangan dengan anggrek alam," tegas Rudy.
Karena itu, seluruh material anggrek yang digunakan Indonesia harus dipesan dari panitia setempat. Dengan nilai sekitar 8.000 Ringgit Malaysia. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat delegasi Indonesia tidak surut. Mereka bahkan menggunakan biaya pribadi.
"Saya hanya ingin dua hal. Bendera Indonesia tetap hadir bersama negara-negara lain. Dan dunia tetap ingat. Bahwa Indonesia memiliki anggrek yang luar biasa," ujar Rudy.
Sedangkan semangat serupa juga dirasakan Win Selamat Riyadi bersama putranya, TB Farhan Davin, yang turut membantu pengerjaan display Indonesia di Genting Highland. Kisah perjuangan delegasi Indonesia menjadi gambaran bagaimana diplomasi budaya tetap berjalan meski dengan keterbatasan.
Di tengah dominasi Thailand dan dukungan kuat yang diberikan negara-negara lain kepada industri anggrek mereka, Indonesia masih mampu membawa pulang gelar runner up. Berkat semangat gotong royong dan tekad mempertahankan Merah Putih di panggung internasional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
