Tujuh Cara Menyucikan Hati

Jumat 18-04-2025,02:00 WIB
Reporter : Adam
Editor : Azmaliar Zaros

 

Ashim bin Yusuf sebagai santri yang berkonsentrasi pada fiqih agak terkejut. Sebelum memperpanjang keterkejutannya, Hatim al-Asham segera menerangkan : Wudhu lahir dilakukan dengan membersihkan anggota badan menggunakan air. Kalau wudhu bathin itu harus mencuci hati (salamatush shadri) dengan 7 hal. 

 

1. Dicuci dengan rasa penyesalan atau an-nadamah.

Menyesali dari berbagai kesalahan dan menyesali karena meninggalkan kebaikan. 

Mengenai an-nadamah ini, kisah Sayyidina Umar bin Khattab RA patut direnungkan. Bahwa Sayyidina Umar bin Khattab RA memiliki kebun kurma di Madinah. Pohon-pohon kurmanya berbuah dengan kwalitas bagus, manis dan legit. Tidak hanya itu, bahkan didalam kebun terdapat satu sumber air, padahal sudah maklum sulitnya sumber air di Madinah. 

 

Betapa bahagianya hati Sayyidina Umar memiliki kebun tersebut, hingga seringkali berjalan mengelilingi dan memeriksa hasil kebunnya.

Hingga suatu saat sepulang dari kebun itu beliau berjumpa dengan para sahabat yang berjalan bersamaan. Kemudian Sayyidina Umar bertanya: Dari manakah gerangan kalian berjalan bersama ? Para sahabat menjawab : Ini dari pulang berjamaah ashar.

 

Kontan saja Sayyidina Umar berucap: Innalilahi wa inna ilaihi rajiun, jadi ini tadi habis jamaah ashar ? Mashaa Allah saksikanlah para sahabat, karena aku ketinggalan jamaah karena kebun kurma ini. Maka kebun ini aku wakafkan kepada fakir miskin. 

Demikianlah selayaknya contoh yang harus kita teladani dalam hal penyesalan meninggalkan satu ibadah kebaikan. Bacaan taraji' yakni innalilahi wa inna ilaihi rajiun, sebenarnya merupakan ungkapan ketika seseorang mendapatkan cobaan dan musibah. 

 

Jadi, suburnya kebun dan sumber air bagi Sayyidina Umar tidak lain hanyalah cobaan yang menimpa dirinya. Dan kalimat innalilahi wa inna ilaihi rajiun menunjukkan betapa penyesalan yang luar bisa dari beliau akibat ketinggalan shalat jamaah ashar. 

Pertanyaannya, apakah demikian keadaan kita ? Pernahkan kita berucap innalilahi wa inna ilaihi rajiun ketika ketinggalan satu shalat jamaah ? Ada juga kita innalilahi wa inna ilaihi rajiun ketika gelas di tangan terjatuh, ketika makanan tertumpah dari tangan. Bukankah itu sama artinya kita lebih menghargai gelas dan maknan daripada shalat jamaah ? 

 

Kategori :