Pembangunan 143 Pos Pemantau Gizi Dikebut

Kamis 14-08-2025,09:12 WIB
Reporter : Windi Junius
Editor : Azmaliar Zaros

 

“Kami ingin memastikan bahwa di 10 kabupaten di Bengkulu, program ini berjalan mulus. Besok pagi, tim kami turun serentak. Ada empat tim yang bekerja paralel, masing-masing mencakup tiga kabupaten selama tiga hari,” ungkap Andi.

Itjen Kemendagri menilai SPPG sebagai instrumen penting, ibarat menara kontrol gizi yang akan memantau kondisi riil masyarakat. Data yang dihasilkan akan membantu pemerintah membuat kebijakan tepat sasaran. Apalagi dalam perang melawan stunting yang masih menjadi momok di banyak desa.

 

 

Stunting: Tantangan Serius Bengkulu

 

Meski data terbaru stunting Bengkulu menunjukkan tren penurunan, tantangannya masih besar. Stunting bukan sekadar masalah fisik anak yang pendek, tetapi juga perkembangan otak yang terhambat, berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia jangka panjang.

 

Dalam konteks ini, SPPG akan menjadi ujung tombak. Petugas di dalamnya akan mengukur tinggi badan, berat badan, lingkar lengan anak-anak, sekaligus memantau asupan gizi dan pola makan keluarga.

BACA JUGA:Piala Soeratin U-13 Bengkulu Memasuki Fase 8 Besar, U-15 Masih Tahap Penyisihan

 

“Kalau ada gejala awal, langsung bisa diintervensi. Itulah kenapa SPPG harus bekerja cepat dan akurat,” kata Herwan.

Rapat evaluasi kemarin juga membahas pentingnya kolaborasi. Kesehatan anak bukan hanya urusan Dinas Kesehatan. Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, hingga pemerintah desa ikut berperan, mulai dari edukasi gizi di sekolah hingga bantuan pangan untuk keluarga berisiko.

BACA JUGA:Warga RT 08 Jalan Gedang Antusias Siapkan Perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia

 

Kategori :