Hati di dalam tubuh manusia ibarat raja. Ke mana tubuh bergerak dan kaki melangkah bergantung kepada irodah hati. Bila hatinya baik maka tubuh akan diarahkan kepada hal yang baik, namun jika hatinya jahat maka tubuh pun akan mengikutinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyadari betapa sentralnya fungsi hati. Oleh karena itu, beliau memohon perlindungan kepada Allah dari hati yang tidak merasakan khusyuk, yakni kondisi ketika hati tidak merasakan kenikmatan dalam beribadah dan bermunajat kepada-Nya.
Sebagaimana Allah firmankan dalam al-Quran Surat az-Zumar ayat 22, “Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”
Penyebab hati menjadi keras adalah karena terlalu banyaknya noda-noda dosa yang menempel di dalamnya. Sehingga, cahaya iman dan hidayah Islam sulit menyusup ke dalamnya.
Benarlah apa yang dipesankan Sayidina Utsman Bin Affan radhiyallahu ‘anhu, “Seandainya hati kita bersih dari noda-noda dosa, kita tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca al-Quran.”
Maka cara membersihkan hati yang kotor itu dengan kembali kepada Allah Ta’ala, memperbanyak tobat, istigfar, dan amal saleh, serta menjauhi perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kaum muslimin rahimakumullah
Kedua: Berlindung dari doa yang tidak didengar!
Mungkinkah Allah tidak mendengar? Padahal Allah memiliki sifat as-Sami’ yang artinya Maha Mendengar. Bukan hanya yang terucap dari lisan, tapi apa yang terbetik di dalam hati Allah pun mendengar dan mengetahuinya.
Lantas apa maksud dari doa di atas? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam bukunya Majmu’ Fatawa, “Bahwa berlindungnya Nabi dari doa yang tidak didengar maksudnya doa itu tidak dikabulkan.”
Dan di antara sebab suatu doa tidak dikabulkan adalah doa tersebut mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, atau doa dari orang yang masih memakan harta haram.