Kedua, puasa melatih pengendalian diri dari hawa nafsu.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering dikendalikan oleh nafsu: nafsu makan, nafsu amarah, dan berbagai keinginan duniawi. Puasa hadir untuk melatih manusia agar mampu menahan diri dan mengendalikan hawa nafsunya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa adalah perisai." (HR. AlBukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra.)
Para ulama menjelaskan bahwa maksud “perisai” adalah pelindung dari dosa dan maksiat, sekaligus pelindung dari siksa api neraka. Orang yang memahami hakikat puasa akan lebih berhati-hati dalam menjaga lisannya, menjaga pandangannya, dan menjaga perilakunya.
Karena itu Rasulullah SAW juga mengingatkan:
"Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. AlBukhari, dari Abu Hurairah ra.)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk dosa dan pelanggaran moral.
Ketiga, puasa menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama.
Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia akan lebih memahami penderitaan orang-orang yang hidup dalam kekurangan. Dari sinilah lahir empati sosial dan semangat untuk berbagi kepada sesama.
Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, terlebih lagi pada bulan Ramadan.
Dalam sebuah hadis disebutkan: