radarbengkuluonline.id, Jakarta -- Menanggapi tingkat inflasi beras secara tahunan yang dilaporkan sudah berada di level 4,36 persen pada April 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa beras kini sudah tidak menjadi penyumbang utama tingkat inflasi.
Seperti dikutip dari laman disway.id, dalam hal ini, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menuturkan bahwa inflasi beras hanya menempati urutan ke-28 dari 40 komoditas dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
BACA JUGA:Wabup Bengkulu Selatan Buka Potradda, Generasi Muda Harus Mencintai Olahraga Tradisional
"Kol putih/kubis dan ikan dencis yang memiliki tingkat inflasi tertinggi hingga 25,47 persen dan 17,09 persen. Andil beras dengan 0,60 persen yang dicatat BPS sebagai paling tinggi kedua, tapi itu pun hanya 0,60 persen dari total inflasi komoditas makanan, minuman, dan tembakau yang 3,06 persen," jelas Amran kepada Disway dan media di Jakarta, pada Kamis (07/05).
Mekipun begitu, Amran juga menekankan bahwa keseimbangan harga harus diwujudkan. Menurutnya, Pemerintah harus mampu menjaga harga petani seiring dengan semangat produksi yang juga harus bertumbuh.
"Dulu, beras itu penyumbang inflasi utama. Sekarang tidak lagi, makanya kita jaga. Petani kita itu kurang lebih 115 juta, kalau kita turunkan (HET) ini, bisa-bisa terpukul turun, tidak ada produksi," pungkas Mentan Amran.
"Kita ini bersyukur. Beras kita sudah cukup. Beras kita surplus. (Harga) pupuk kita turun. Negara lain kekurangan pupuk (sampai) tidak tanam. Petaninya ribut. (Jadi) kita ini bersyukur," tambahnya.
Di samping itu, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menuturkan bahwa fluktuasi harga beras di pasaran dinilai masih berada dalam batas wajar.
"Harga beras stabil. Sebenarnya harga beras relatif masih terkendali. Kalau kita melihat dari sisi inflasi sebenarnya sangat kecil. Kemudian beras itu kan relatif di pasar, kadang-kadang naik dan fluktuatif," ucap Ketut.
Untuk diketahui, inflasi beras secara bulanan secara konsisten masih berada di level positif, dengan jumlah sebesar 0,58 persen pada April 2026 ini. Bahkan indeks harga diterima petani padi menorehkan 145,37 dan menjadi yang tertinggi pada tahun 2026 ini.
Sedangkan realisasi penjualan beras program SPHP sejak awal Januari sampai 5 Mei telah mencapai total 409,5 ribu ton.
Ini terdiri dari realisasi Januari-Februari dengan 221 ribu ton yang merupakan perpanjangan program SPHP beras tahun 2025. Sementara Maret sampai 5 Mei totalnya 188,5 ribu ton yang merupakan SPHP beras tahun 2026.