Tokoh Minangkabau Ini Sukses Satukan NKRI Dengan Damai

Tokoh Minangkabau Ini Sukses Satukan NKRI Dengan Damai

Mosi Integral Natsir sang tokoh Minangkabau-Ist-

RADAR BENGKULU - Ditengah tuduhan meningkatnya sikap intoleransi yang terkesan lebih banyak dialamatkan kepada umat Islam, maka semua pihak perlu melihat kembali sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Mungkin tidak semua masyarakat mengetahui bahwa wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ada saat ini adalah karena adanya Mosi Integral 3 April 1950.

 

Mosi tersebut diajukan oleh seorang tokoh Minangkabau bernama Mohammad Natsir (M.Natsir) dan disetujui fraksi-fraksi saat itu. Mosi integral ini telah menyatukan wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang saat itu terpecah dalam 16 negara bagian menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Mosi Integral adalah sebuah keputusan parlemen mengenai kesatuan sebuah negara. Sedangkan Mosi Integral Natsir merupakan sebuah hasil keputusan parlemen mengenai bersatunya kembalinya sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan yang digagas oleh Mohammad Natsir tokoh nasional yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat.

 

Mohammad Natsir (17 Juli 1908 – 6 Februari 1993) adalah seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Mohammad Natsir diakui oleh Dunia Islam sebagai pahlawan lintas bangsa serta negara.

 

Mosi Integral Natsir ini tidak lahir begitu saja. Terjadinya perdebatan di Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah merupakan titik kulminasi aspirasi masyarakat Indonesia yang kecewa terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, 23 Agustus - 2 November 1949.

 

Dalam pengajuannya ke parlemen banyak yang menolak. Pihak yang termasuk menolak hasil KMB adalah Natsir yang waktu itu Menteri Penerangan (Menpen) dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim. Natsir menolak jabatan Menpen dan memilih berkonsentrasi memimpin Fraksi Masyumi di DPR-RIS. Salah satu alasan Natsir menolak jabatan itu adalah karena ia tak setuju Irian Barat tak dimasukkan ke dalam RIS.

 

Perdana Menteri (PM) RIS Mohammad Hatta menugaskan Natsir dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan berbagai krisis di daerah. Pengalaman keliling daerah menambah jaringan Natsir. Selain itu, kecakapannya berunding dengan para pemimpin fraksi di Parlemen RIS, seperti IJ Kasimo dari Fraksi Partai Katolik dan AM Tambunan dari Partai Kristen, telah mendorong Natsir ke satu kesimpulan, negara-negara bagian itu mau membubarkan diri untuk bersatu dengan RI—asal jangan disuruh bubar sendiri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: radar bengkulu