Dengan demikian kita akan selamat dari siksa neraka. Sebaliknya jika kita mendambakan surga maka kita harus mendekati sedekat-dekatnya Allah Swt sebagai dzat yang ditakuti.
Idealnya, seseorang pasca puasa Ramadhan dapat mengabdikan diri kepada Allah Swt betul-betul tanpa pamrih. Tidak berharap syurga atau berlindung kepada-Nya agar tidak masuk neraka, tetapi semata-mata kita lakukan pengabdian karena Allah SWT, sebagaimana di didasarkan pada al-Qur’an Surah Al-An'am Ayat 162:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Artinya: “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena Allah SWT”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah
Termasuk dalam merawat kemabruran puasa adalah menjaga kualitas yang telah dicapai selama puasa Ramadhan, yaitu peningkatan dari awalnya level al-taib menuju ke level/kualitas al-tawwabin. Al-tawwab dan al-taib berasal dari akar kata yang sama (Arab: taba-yatubu berarti kembali).
Dalam tinjauan tasawuf, terdapat perbedaan antara keduanya. Jika dalam level al-taibin ditandai dengan sikap seseorang yang hanya sesekali atau sekali dalam melakukan pertobatan diri. Ia seolah-olah membiarkan dirinya terbuai dengan godaan dosa karena mereka yakin pada saatnya pasti akan kembali (taib) ke jalan kebenaran.
Akan tetapi, jika seseorang sudah menggapai at-tawwabin ( التوابين, menunjukkan adanya keseriusan dan kesungguh-sungguhan dalam bertaubat. Ia cenderung akan bolak-balik kembali ke jalan yang benar karena dipicu oleh penyesalan yang mendalam disertai ketakutan akan murka Tuhan.
Karakter al-tawwabin dalam kacamata Imam Al-Gazali tercermin dari sikapnya yang langsung memohon ampunan (beristighfar) setelah melakukan perbuatan dosa.
Ia menyesali diri, bertekad dengan sepenuh hati untuk tidak akan kembali lagi mengulang perbuatan dosa, mengganti perbuatan dosa dan maksiatnya dengan amal kebajikan, mengembalikan hak-hak orang lain yang pernah diambil, datang meminta maaf kepada mereka yang pernah dibohongi, dan pada akhirnya kembali pasrah dan istiqamah ke hadirat Allah SWT. Inilah kualitas insal kamil yang sejati.