Sedangkan kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen tanpa batas, yang dicontohkan pada kepribadian Nabi Ayub yang mampu memaafkan segala kesalahan istrinya.
Sifat mashabir teraktualisasi melalui kesadaran bahwa dia telah memaafkan kesalahan orang lain baik diminta maaf atau tidak dimintai maaf dan dia juga sudah melupakan kesalahannya.
Sebuah prilaku yang sangat terpuji yang perlu dipertahankan orang-orang yang selesai berpuasa Ramadhan, sehingga dapat menjadikan hidup damai, aman dan nyaman.
Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “tapi kesabaran bisa punya batas”, maka orang itu belum masuk kategori mashabir.
Sedangkan shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Oleh karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma'ul husna yang terakhir adalah al-Sabur.
Allah SWT disebut al-Shabur karena Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ulah dan tingkah laku hamba-Nya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah
Termasuk dalam merawat kemabruran puasa adalah membentuk pribadi muslim yang memiliki sifat khasyyah. Kata khasyyah berasal dari akar kata khasya berarti takut, tetapi obyek yang ditakuti itu ialah Sang Khaliq, Allah SWT.
Seperti ditegaskan Allah di dalam al-Qur’an:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Artinya: ”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. al-Nisa’/4:9).