Trauma Tragedi Kanjuruhan di Kota Malang yang Sejuk Masih Melekat

Trauma Tragedi Kanjuruhan di Kota Malang yang Sejuk Masih Melekat

Penulis berfoto di depan Kantor Bupati Malang-iwan/IST-

 


MALANG, RADARBENGKULUONLINE.COM - Meskipun padat, namun suasana Kota Malang, Jawa Timur masih asri dan sejuk. Banyak pohon besar yang rindang, namun Kotanya tetap bersih serta nyaman. Meski tak terlihat adanya aparat keamanan yang berjaga di persimpangan jalan karena terlihat jelas dan lekat trauma tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan Aremania saat laga Arema Fc Vs Persebaya Surabaya dan jadi tragedi terbesar dunia sepak bola pada tahun 2022 itu. Karena, masih banyak selebaran dan spanduk  bertuliskan usut tuntas, gas air matamu dikutuk ribuan mata disetiap pojok jalan Kota Malang. Bagaimana ceritanya? Silahkan baca liputan wartawan RADARBENGKULUONLINE.COM berikut ini.

IWAN SUPRATMAN - KOTA MALANG

Ini adalah perjalanan kali pertama saya ke Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Setelah melalui dua kali perjalanan panjang dengan transportasi udara  dari Kota Bengkulu ke Jakarta, kemudian dari Jakarta - Surabaya dan setelah itu dilanjutkan perjalanan darat naik bus sekitar 2,5 jam.

Minggu malam sekitar pukul 21.00 WIB, kami sampai di Kampus Universitas Negeri Malang (UNM). Yaitu, tempat panitia Pekan Olah Raga Wartawan Nasional (Porwanas) Ke XIII yang digelar tanggal 21-27 November 2022 menunggu kedatangan rombongan kontingen dari seluruh SIWO PWI daerah di Indonesia.

Setelah tiga hari di Malang, saya melihat banyak perbedaan antara Kota Bengkulu dengan Kota Malang.  

Intinya Kota Malang ini adalah kota yang masih asri, sejuk dan nyaman dengan masih banyaknya pohon pohon berdiameter besar yang ada dan terjaga.


Penulis foto bersama kontingen Porwanas Bengkulu-iwan-

Kota Malang dengan lima Kecamatan, namun jumlah penduduknya cukup padat yang hampir mencapai 1 juta jiwa. Itu jika mengacu data tahun 2021 lalu.

Di Kota Malang arus mobilitas kendaraan cukup tinggi. Karena, banyaknya kendaraan roda empat, roda tiga hingga becak motor yang beroda tiga sebagai kendaraan transportasi tradisional.

Saya sempat berbincang dan mengobrol dengan seorang driver becak motor yang mangkal di Pasar Besar. Yaitu, salah satu Pasar Tradisional terbesar di Kota Malang. Namanya, Sugianto (58).  Driver Becak Motor itu bercerita panjang lebar sembari mengantarkan kami ke penginapan kontingen Futsal SIWO PWI Bengkulu.

"Saya ini aslinya Klaten. Tapi saya sudah puluhan tahun tinggal disini. Dan keluarga saya tinggal di Jalan Letkol Sujono. Memang kondisi di Kota Malang ini adem dan sejuk. Tapi pasca tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu,  memang arus lalu lintas di tengah Kota Malang tidak terlihat aparat petugas kepolisian yang berjaga. Tapi dipersimpangan lebih banyak polisi cepek yang membantu mengatur arus lalu lintas dengan menggunakan rompi dari Dinas Perhubungan Kota Malang," ujar Sugianto saat berbincang dengan RADARBENGKULUONLINE.COM di Bundaran depan Kantor Walikota Malang kemarin.


Selain itu, Sugianto juga sedikit bercerita tentang kondisi Kota Malang yang menurutnya memang asri karena masih banyak batang pohon yang dijaga dengan tidak ditebang. Karena di Kota Malang ada peraturan regulasi yang mengatur tidak boleh menebang pohon sembarangan tanpa izin pemerintah setempat.

"Jadi memang pohon-pohon itu dipertahankan dan dijaga keasriannya. Pernah ada yang rapuh dan jatuh, bahkan menimpa kendaraan yang sedang melintas. Tapi begitulah Kota Malang," cerita  Sugianto.


Suasana salah satu lokasi di Kota Malang-Iwan-


Selain itu, ketika ditanyakan kenapa banyak tulisan usut tuntas dan tulisan bernada kecaman terhadap aparat penegak hukum kepolisian, Pakde menerangkan pasca tragedi Kanjuruhan memang masyarakat masih trauma dan meminta agar kejadian itu diusut tuntas.

"Ya itu ada foto foto korban tragedi Kanjuruhan yang dipajang di bundaran depan Kantor Walikota," ujar Sugianto. 

 

 

Sumber: