Supaya Sehat dan Bahagia, Anak-Anak Perlu Bergerak 60 Menit

Supaya Sehat dan Bahagia,  Anak-Anak Perlu Bergerak 60 Menit

anak-anak melakukan gerakan senam ringan di sela pelajaran di sekolah. Aktivitas fisik meningkatkan kesehatan dan kecerdasan mereka-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id, Jakarta  - Zaman berubah. Kondisi new normal yang lahir pasca pandemi Covid-19 membuat anak-anak tidak banyak melakukan aktivitas fisik. Digitalisasi membuat mereka betah beraktivitas di dunia maya, dan sama sekali tidak ke mana-mana. 

Seperti dikutip dari laman harian disway, fakta itu membuat para pakar dan ilmuwan gelisah. Jika dibiarkan, kondisi tersebut akan membawa banyak kerugian. Tidak hanya bagi anak-anak itu sendiri, tapi juga untuk masa depan dunia.

BACA JUGA:Begini Cara Mengontrol Pemakaian Gawai pada Anak dan Remaja



"Di seluruh dunia, anak-anak sudah tidak seaktif zaman dulu. Itu bisa berdampak besar bagi kesehatan mereka dan kesehatan masyarakat pada umumnya," papar Nicole Logan, asisten dosen kinesiologi di University of Rhode Island, Amerika Serikat, sebagaimana dilansir BBC.

Ancaman paling nyata (dan kini sudah menjadi masalah kesehatan di banyak negara) adalah obesitas pada anak. Saat ini, satu dari 10 anak dan remaja mengalami obesitas di seluruh dunia. Bersamaan dengan itu, waktu leyeh-leyeh alias tidak melakukan kegiatan apa pun juga melonjak tinggi. Itu selaras dengan naiknya angka pengidap stres.

Sedangkan asupan makanan yang tidak sehat dan nyaris nihilnya olahraga menjadi penyebab utama. Namun, pemicunya tetaplah gaya hidup yang kian meninggalkan aktivitas fisik secara riil. Kabar baiknya, karena penyebab utama kondisi yang tidak menyenangkan tersebut bisa dilacak dengan cepat, maka para pakar punya peluang tinggi untuk mengubah kondisi itu dan menurunkan risiko gangguan kesehatan akibat gaya hidup.

Setelah melakukan penelitian panjang, para pakar di Negeri Paman Sam menyimpulkan bahwa anak-anak perlu melakukan aktivitas fisik selama minimal 60 menit setiap harinya. Itu akan menyehatkan raga dan jiwa mereka sekaligus.  Penelitian selama lima dasawarsa yang melibatkan 712 veteran Perang Dunia II membuahkan hasil sesuai prediksi Logan dan timnya. Rupanya, para veteran yang pada masa SMA mereka aktif berolahraga, terbukti lebih sehat pada usia mereka yang kini 70 tahun.

Lalu, mereka juga masih bisa melakukan aktivitas fisik seperti biasa. Bahkan, mereka juga sangat jarang periksa ke dokter karena hampir tak pernah sakit. "Kebiasaan fisik saat anak-anak berdampak hingga saat kita tumbuh dewasa dan menjadi tua. Semua kebiasaan itu terbawa. Yang aktif saat kecil juga akan tetap aktif saat dewasa," terang Logan. 

Mereka yang aktif berolahraga saat masih sekolah, punya indeks massa tubuh alias body mass index (BMI) yang rendah. Selain itu, lingkar pinggang mereka juga tetap kecil alias ramping. Yang lebih penting, kesehatan mental mereka terjaga. Demikian pula prestasi akademik mereka.


Manfaat Kognitif
"Aktivitas fisik anak-anak meningkatkan komposisi tubuh dan meningkatkan kemampuan kognitif sekaligus," terang Logan. Menurut dia, aktivitas fisik meningkatkan performa cardiorespiratory manusia dan juga meningkatkan kemampuan otak. 
Karena itulah, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendorong pembentukan kelompok-kelompok pendukung aktivitas fisik anak-anak dan remaja. Terutama, di sekolah-sekolah. 

Para guru di sekolah menjadi pihak yang paling bisa memengaruhi anak-anak. Bahkan, mereka bisa memaksa anak-anak melakukan aktivitas di sekolah lewat kurikulum atau penyusunan rencana pembelajaran.  Misalnya, menjadwalkan olahraga ringan setiap hari. Uji coba yang Logan dan timnya lakukan terhadap sekelompok anak obesitas di salah satu sekolah di AS menunjukkan hasil yang signifikan.  

"Mereka yang obesitas dan mengikuti program kami, seiring berjalannya waktu menunjukkan performa akademik yang bagus. Itu bukti bahwa aktivitas fisik juga memengaruhi kemampuan otak manusia," terangnya. 

Selain bertambah pintar, tentu saja anak-anak obesitas itu kemudian menjadi lebih fit. Berat badan mereka turun. "Lemak berlebih pada organ vital tubuh bisa memicu inflamasi yang menghambat kemampuan kognitif seseorang," ungkap Logan.

Kelincahan dan kegesitan tubuh yang menjadi ciri khas aktivitas fisik yang baik, berkontribusi baik terhadap konsentrasi dan kedisiplinan.  "Kesehatan fisik meningkatkan kemampuan berpikir. Terutama, dalam mengurai tugas-tugas yang kompleks dan membutuhkan pemikiran serius," katanya.

Di sisi lain, anak-anak yang bugar karena rutin berolahraga juga memiliki empati yang baik dan kemampuan untuk mengendalikan diri. Mereka tidak reaktif dan tidak mudah emosi.

Jangan Malas Bergerak
Meningkatkan aktivitas fisik tidak selalu identik dengan kelas olahraga berbayar. Penelitian di Massachusetts menunjukkan bahwa mengubah kebiasaan anak-anak saja sudah cukup. Di sekolah, anak-anak harus Bergerak pada pagi hari sebelum kelas mulai dan pada siang atau sore hari sebelum pulang ke rumah. Rutinitas itu langsung mengubah kebugaran ana-anak dalam hitungan hari.

Selain itu, sekolah juga mengimbanginya dengan mengawasi asupan gizi anak didik mereka. Mereka didorong untuk mengonsumsi makanan sehat.  "Hal terpenting untuk mencegah obesitas adalah mengubah pola makan anak-anak dan menciptakan program-program fisik yang membuat mereka Bergerak. Di samping itu, pembatasan screen time sangat perlu diterapkan dengan tegas," papar Ulla Toft dari University of Copenhagen.

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: