PEMBULLYAN SEMBUNYI DI KATA BERCANDA
Winda Nurivka Manurung mahasiswa Universitas Bengkulu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi S1 Jurnalistik-Ist-
Radar Bengkulu - pembullyan itu bercanda atau apasih? Setiap hari, banyak anak di Indonesia bahkan di luar negeri yang pergi ke sekolah dengan rasa takut. Bukan takut karena tidak bisa mengerjakan soal ujian, bukan takut karena terlambat, tetapi mereka takut untuk bertemu teman-temannya sendiri. Perundungan atau bullying bukan sekadar kenakalan anak-anak yang akan hilang dengan sendirinya, tetapi itu adalah luka yang diam-diam merusak generasi penerus bangsa, dan kita terkadang berpura- pura untuk tidak melihat dan mengganggap itu candaan.
bukan hanya di sekolah saja, bahkan di kampus yang bisa dibilang dikelilingi mahasiswa yang pendidikan nya lebih tinggi tetap saja terjadi pembullyan tersebut.
kadang kita biasa dengan pembullyan itu karena sembunyi di kata "bercanda", padahal itu bisa merusak pikiran bahkan mental seseorang.
Kesalahan yang paling berbahaya yang kita lakukan itu adalah ketika kita menganggap perundungan sebagai bagian normal dari tumbuh dewasa dan berkata "Ah, itu biasa dulu saya juga begitu." Kalimat ini telah menjadi tameng yang melindungi pelaku dan membiarkan korban terus menderita sendirian.
Penelitian dari Universitas Indonesia (2023) menemukan bahwa 68% guru di sekolah dasar dan menengah menganggap perundungan ringan tidak memerlukan intervensi serius. Padahal, Journal of Child Psychology (2022) membuktikan bahwa anak yang mengalami perundungan secara konsisten bahkan yang "ringan" sekalipun menunjukkan penurunan prestasi akademik rata-rata 23% dan penurunan kepercayaan diri yang signifikan hingga usia dewasa.
Perundungan bukan kenakalan biasa. Ia adalah kekerasan sistematis yang dilakukan secara berulang, dengan ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban. Dan seperti semua bentuk kekerasan, ia meninggalkan bekas.
kadang kita biasa dengan pembullyan itu dan sembunyi di kata "bercanda", padahal itu bisa merusak pikiran, mental bahkan membuat seseorang bunuh diri.
Cyberbullying perundungan di dunia maya telah mengubah rumah dari tempat perlindungan menjadi tempat kekerasan baru. Dengan smartphone di tangan saja pelaku bisa menyerang kapan saja, ketika tengah malam, saat korban sedang makan bersama keluarga, bahkan ketika korban mencoba tidur.
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (2023) menunjukkan 45% kasus perundungan di Indonesia kini terjadi secara daring. Bentuknya beragam: penyebaran foto memalukan, pengucilan dari grup percakapan, komentar jahat berulang di media sosial, hingga ancaman langsung melalui pesan pribadi.
sebenarnya siapa yang tanggung jawab untuk mengatasi pembullyan ini? jawabannya adalah semua orang,pembullyan itu terjadi karena kurangnya empati seseorang, pengaruh lingkungan seperti lingkungan pertemanan,keluarga, dan juga karena media yang penuh kekerasan yang dapat membuat seseorang meniru perilaku buruk tersebut, bisa juga karena ingin dianggap berkuasa, kurangnya pengawasan dan mungkin saja pernah menjadi korban dan ingin membalas dendam
solusi nya itu untuk menghilangkan pembullyan adalah dengan cara membangun sikap saling menghargai,meningkatkan pengawasan, menggunakan media sosial dengan bijak dan juga meciptakan lingkungan yang aman dan peduli agar semua orang merasa aman dan nyaman.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
