Cerita Bujang Bekurung (Karya Siti Mutmainah)

Cerita Bujang Bekurung (Karya Siti Mutmainah)

Siti Mutmainah penulis cerita Bujang Bekurung-Ist-

RADARBENGKULU - Cerita kali ini dikirim Siswi dari SMA Negeri 6 Bengkulu Selatan bernama Siti Mutmainah. Cerita ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama bujang bekurung. Bagaimana kronologis kisahnya? selamat membaca di artikel ini, semoga terhibur.

Dahulu kala di daerah Bengkulu Selatan terdapat sebuah kerajaan kecil di hulu sungai yang di pimpin oleh seorang Raja dan Permaisuri. Raja dan Permaisuri memiliki 3 orang anak, anak pertama adalah seorang laki laki yang bernama Bujang Bekurung, Bujang Bekurung terkenal dengan kemalasannya karena ia hanya keluar untuk makan dan melakukan beberapa aktivitas. Selebihnya dia hanya tinggal di dalam kamarnya untuk tidur seharian.

Anak kedua bernama Panau Jarang, dipanggil Panau Jarang karena dia memiliki panau di wajahnya yang terletak berjauhan, menurut masyarakat Bengkulu Selatan pada zaman itu memiliki Panau Jarang adalah anugrah bagi seorang perempuan. Namun di balik paras cantiknya, Panau Jarang memiliki Sikap yang sangat sombong.

Ia tidak ingin berbicara dengan rakyat biasa, atau perempuan sebayanya. Panau lebih suka duduk di istana untuk mengagumi kecantikanya, jika diajak keladang Panau Jarang mau, Dia hanya akan duduk di bawah pohon rindang sambil memandangi orang orang yang sedang bekerja di bawah sinar matahari.

Sedangkan anak bungsu bernama Hitam Manis, seperti namanya Hitam Manis memiliki warna kulit yang lebih gelap dari pada kakak kakaknya namun meskipun demikian Hitam Manis tetap terlihat cantik karena wajahnya yang manis, sehingga membuat orang tidak pernah bosan memandang wajahnya. Berbeda dengan kakaknya Panau Jarang, Hitam Manis adalah perempuan yang sangat ramah dan baik hati, dia tidak akan keberatan jika harus membantu warga yang ada di lingkungan istana.

Karena sikapnya itulah banyak perempuan perempuan di lingkungan istana yang mau menjadi temannya.

 

Di suatu sore saat langit terlihat menghitam dan angin berhembus kencang, Bujang Bekurung masih tenggelam didalam mimpinya. Raja yang mulai marah melihat tingkah Bujang Bekurung pun masuk kedalam kamarnya “tidakkah kau berfikir untuk keluar untuk melihat dunia yang luas ini, aku sudah tua kapan pun ajal bisa menjemputku tidakkah kau berfikir untuk mencari seorang Putri untuk dijadikan istrimu?”

Bujang Bekurung yang tadinya masih sibuk dialam mimpinya langsung membuka matanya terpaksa dan berdiri tegap dihadapan Raja. Bujang Bekurung terlihat gugup setelah mendengar pekataan Raja.

“baiklah jika itu keinginan ayahanda, aku akan pergi mencari seorang Putri seperti perintahmu, tolong siapkanlah bekal satu keranjang untuk di perjalanan” jawab Bujang Bekurung.

Raja pun mengiyakan syarat dari Bujang Bekurung, Raja kemudian menyiapkan bekal untuk Bujang Bekurung. Setelah bekal siap Bujang Bekurung pun berangkat bersama anjing peliharaannya. Perjalananan Bujang Bekurung untuk mencari seorang Putri yang sesuai keinginannya tidaklah mudah, dia berjalan sangat jauh dalam waktu yang cukup panjang. Bujang Bekurung terus berjalan hingga ia sampai di sebuah hutan yang bernama Hutan Cecap Ening, hutan itu benar benar sunyi tidak ada satupun suara disana bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar.

Tak lama setelah masuk kedalam hutan yang mengerikan itu anjing Bujang Bekurung yang tadinya hanya berjalan dengan tenang di depannya tiba tiba menggonggong dengan keras. Anjing itu terus menggonggong dengan kencang sambil berlari kearah pohon besar yang terlihat tidak memiliki daun bahkan untuk sehelai pun, anjing itu berhenti tepat di depan pohon besar itu lalu menggonggo lebih keras dari sebelumnya.

Bujang Bekurung menghampiri anjingnya, dia hanya melihat sebuah botol kaca yang tergeletak di dalam pohon besar yang sudah mati itu. Karena merasa penasaran Bujang Bekurung memutuskan untuk mengambil botol kaca tersebut anehnya setelah ia mengambil botol kaca itu anjingnya yang dari tadi terus menggonggong lalu terdiam.

Akhirnya Bujang Bekurung memutuskan untuk membawa botol kaca itu bersamanya pulang karena bekal yang dia bawa sudah mulai habis dan tubuhnya sudah terasa sangat letih setelah perjalanan yang cukup panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: https://radarbengkulu.disway.id