Turunkan Risiko Dehidrasi, Pelajar Ingatkan Masyarakat agar Cukup Minum Air Putih
PT AIA FINANCIAL (AIA) memberikan apresiasi kepada dua sekolah terbaik nasional dalam ajang kompetisi proyek sekolah sehat AIA Healthiest Schools 2026, yaitu SDN Cipedak 01 dan SMPIL Kapten Fatubaa sebagai pemenang-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id, Jakarta - Berulang kali kita mengetahui pentingnya minum air putih secara rutin dan cukup untuk memenuhi kebutuhan harian.
Seperti dikutip dari laman disway.id, namun kini giliran siswa yang mengingatkan kita untuk cukup minum air putih guna mengurangi risiko dehidrasi.
BACA JUGA: Warna Pintu Rumah yang Sebaiknya Dihindari dan Pilihan Terbaik untuk Tampilan Hunian Lebih Menarik
Untuk itu, PT AIA FINANCIAL (AIA) memberikan apresiasi kepada dua sekolah terbaik nasional dalam ajang kompetisi proyek sekolah sehat AIA Healthiest Schools 2026, yaitu SDN Cipedak 01 sebagai pemenang kategori Sekolah Dasar (SD) dan SMPIL Kapten Fatubaa sebagai pemenang kategori Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Lalu, kedua sekolah tersebut selanjutnya akan mewakili Indonesia dalam kompetisi regional AIA Healthiest Schools di Bangkok pada Juli 2026, bersama sekolah-sekolah dari berbagai negara di Asia Pasifik tempat AIA beroperasi.
Untuk kategori Sekolah Dasar, SDN Cipedak 01 Jakarta terpilih sebagai pemenang melalui proyek GEMARIPAH SEGAR atau“Gerakan Minum Air Putih Aah Segar”. Program ini lahir dari temuan tingginya risiko dehidrasi pada siswa akibat rendahnya kesadaran konsumsi air putih secara rutin.
Melalui berbagai inisiatif seperti jadwal minum serentak, kartu pemantauan hidrasi, lomba poster edukasi, hingga Duta Hidrasi Cilik, SDN Cipedak 01 berhasil membangun budaya hidrasi harian yang melibatkan seluruh warga sekolah.
Hanya dalam waktu tujuh hari setelah program diluncurkan, persentase siswa yang memenuhi anjuran konsumsi air harian sebesar dua liter meningkat dari 12% menjadi 98%, sementara risiko dehidrasi menurun dari 60% menjadi 0%.
Program ini dirancang sederhana, berdampak, dan mudah diaplikasikan oleh sekolah lain tanpa membutuhkan biaya tambahan.
Presiden Direktur AIA, Harsya Prasetyo mengatakan, “AIA ingin berkontribusi terhadap kualitas generasi bangsa dan menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari perjalanan belajar setiap anak. Itulah mengapa AIA Healthiest Schools menghadirkan modul pembelajaran yang dirancang secara khusus bagi siswa-siswi di Asia Pasifik termasuk Indonesia yang dapat diakses secara gratis, fleksibel, dan menyenangkan, lalu dilanjutkan dengan Kompetisi Proyek Sekolah Sehat. Terima kasih atas dedikasi, kreativitas, dan semangat dari seluruh pihak untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat bagi generasi penerus bangsa.”
Kathryn Parapak, Chief Marketing Officer AIA, mengatakan, “Kami percaya proyek sekolah sehat tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, yang terpenting adalah memahami tantangan nyata di lingkungan sekolah masing-masing, menghadirkan solusi yang relevan, serta memastikan dampaknya dapat dirasakan dan diukur secara berkelanjutan. Ketika guru, siswa, orang tua, dan komunitas bergerak bersama, perubahan positif akan tercipta lebih kuat dan bertahan lebih lama.”
Program AIA Healthiest Schools bertujuan untuk mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih sehat melalui dua inisiatif utama, yaitu modul pembelajaran daring yang dapat diakses oleh para guru secara gratis melalui laman AIA Healthiest Schools; serta kompetisi proyek sekolah sehat yang mengadopsi satu atau lebih pilar utama program, meliputi Makan Sehat, Gaya Hidup Aktif, Kesehatan Mental, dan Sehat & Lestari.
Untuk tahun ini, Indonesia mencatatkan partisipasi tertinggi dibandingkan negara peserta lainnya dengan 2.896 pendaftar dan 359 proyek sekolah sehat yang berhasil dikumpulkan. Tingginya antusiasme ini mencerminkan semakin besarnya kesadaran sekolah-sekolah di Indonesia untuk membangun budaya hidup sehat melalui aksi nyata yang berkelanjutan.
Sedangkan untuk kategori Sekolah Menengah Pertama dimenangkan oleh SMP IL Kapten Fatubaa dari Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, melalui proyek Huka Upcycling Project (HUP). Sekolah ini terletak di area perbatasan antara Indonesia dan Timor-Leste.
Berangkat dari permasalahan limbah kulit pisang, SMP IL Kapten Fatubaa menghadirkan solusi berbasis lingkungan dan kewirausahaan dengan mengolah limbah kulit pisang menjadi eskrim, pupuk kompos,dan pupuk cair organik. Selain itu, proyek ini juga melibatkan siswa dari Timor-Leste melalui seminar kolaboratif serta kegiatan ujicoba produk.
Dampak proyek ini telah melampaui lingkungan sekolah dan melintasi batas negara karena memberikan manfaat kepada petani lokal, masyarakat sekitar, serta lebih dari 150 siswa dari Timor-Leste melalui kemitraan pembelajaran. Penilaian kompetisi dilakukan berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari relevansi permasalahan, keselarasan antara proyek dengan permasalahan, kualitas implementasi, dampak yang terukur, hingga keberlanjutan program.
Melalui AIA Healthiest Schools, AIA berharap semakin banyak sekolah di Indonesia yang terinspirasi untuk membangun lingkungan belajar yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Praktik-praktik baik yang lahir dari berbagai proyek peserta diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam menciptakan perubahan positif bagi generasi masa depan.
Hal ini sejalan dengan misi AIA untuk membantu jutaan keluarga di Indonesia hidup Lebih Sehat, Lebih Lama, Lebih Baik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
