KHUTBAH IDUL FITRI: Menjaga Kemabruran Puasa Pasca Idul Fitri Membangun Manusia Berkarakter

Prof. Dr. H. Zubaedi M. Ag M. Pd-Adam-radarbengkulu
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah
Termasuk dalam merawat kemabruran puasa adalah membentuk pribadi muslim yang memiliki sifat khasyyah. Kata khasyyah berasal dari akar kata khasya berarti takut, tetapi obyek yang ditakuti itu ialah Sang Khaliq, Allah SWT.
Seperti ditegaskan Allah di dalam al-Qur’an:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Artinya: ”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. al-Nisa’/4:9).
Dengan demikian kita akan selamat dari siksa neraka. Sebaliknya jika kita mendambakan surga maka kita harus mendekati sedekat-dekatnya Allah Swt sebagai dzat yang ditakuti.
Idealnya, seseorang pasca puasa Ramadhan dapat mengabdikan diri kepada Allah Swt betul-betul tanpa pamrih. Tidak berharap syurga atau berlindung kepada-Nya agar tidak masuk neraka, tetapi semata-mata kita lakukan pengabdian karena Allah SWT, sebagaimana di didasarkan pada al-Qur’an Surah Al-An'am Ayat 162:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Artinya: “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena Allah SWT”.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: