KHUTBAH IDUL FITRI: Menjaga Kemabruran Puasa Pasca Idul Fitri Membangun Manusia Berkarakter

Prof. Dr. H. Zubaedi M. Ag M. Pd-Adam-radarbengkulu
Syakur sebagai tingkat kesyukuran paling tinggi, dambaan semua orang. Betapa tidak, orang yang sudah sampai di tingkatan ini dadanya akan lapang, selapang dengan samudra, sehingga betapapun banyak kotoran mengalir dari sungai tidak akan pernah bisa merubah warna air samudra.
Melalui ibadah puasa Ramadhan diharapkan minimal dapat membentuk kepribadian predikat syukur hingga syakur.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah
Sebagai bagian dalam merawat kemabruran puasa Ramadhan yang lain adalah melahirkan sikap mukhlas dalam kehidupan nyata. Kata mukhlish (مُخْلِصٌ) dan mukhlash ( مُخْلَص ) berasal dari akar kata akhlasha-yukhlishu yang berarti tulus, jujur, jernih, bersih, dan murni.
Orang yang berpredikat mukhlash, jamak-nya مُخْلِصِين. (mukhlashin) adalah orang yang mencapai puncak keikhlasan sehingga bukan dirinya lagi yang berusaha menjadi orang ikhlas (mukhlishin) tetapi Allah SWT yang proaktif untuk memberikan keikhlasan.
Jika kadar keikhlasan masih dalam batas mukhlis, maka masih riskan untuk diganggu berbagai provokasi iblis karena masih menyadari dirinya berbuat ikhlas. Sedangkan jika seseorang mampu menampilkan sifat mukhlash akan menjadikan Iblis menyerah, ia tidak bisa lagi berhasil mengganggu manusia karena langsung di-back-up oleh Allah Swt.
Beberapa firman Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang sudah sampai di maqam al-mukhlashin akan steril dari gangguan setan. Berbagai rayuan dan jebakan setan tidak akan mempan lagi mengenainya.
Seperti diungkapkan Allah dalam al-Qur’an surat al-Hijr ayat 39-40 berikut:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: