KHUTBAH IDUL FITRI: Menjaga Kemabruran Puasa Pasca Idul Fitri Membangun Manusia Berkarakter

Prof. Dr. H. Zubaedi M. Ag M. Pd-Adam-radarbengkulu
Artinya: Ia (iblis) berkata “oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka (manusia) di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.
Pasca puasa Ramadhan diharapkan kita bisa konsisten menampilkan sikap sebagai seorang mukhlasin seperti ini.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah
Ikhtiar lain yang perlu lakukan dalam merawat kemabruran setelah Idul Fitri adalah menampilkan kepribadian yang mencerminkan sifat mashabir. Di dalam al-Qur’an dikenal tiga istilah yang sering digunakan Allah untuk menyebut sabar, yaitu shabir, mashabir, dan shabur.
Kata shabir menunjukkan kepada orang yang sabar, namun kesabarannya masih temporer, masih memberi batas, dan sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol sehingga kesabaran menjadi hilang.
Sedangkan kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen tanpa batas, yang dicontohkan pada kepribadian Nabi Ayub yang mampu memaafkan segala kesalahan istrinya.
Sifat mashabir teraktualisasi melalui kesadaran bahwa dia telah memaafkan kesalahan orang lain baik diminta maaf atau tidak dimintai maaf dan dia juga sudah melupakan kesalahannya.
Sebuah prilaku yang sangat terpuji yang perlu dipertahankan orang-orang yang selesai berpuasa Ramadhan, sehingga dapat menjadikan hidup damai, aman dan nyaman.
Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “tapi kesabaran bisa punya batas”, maka orang itu belum masuk kategori mashabir.
Sedangkan shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Oleh karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma'ul husna yang terakhir adalah al-Sabur.
Allah SWT disebut al-Shabur karena Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ulah dan tingkah laku hamba-Nya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: