KHUTBAH IDUL FITRI: Menjaga Kemabruran Puasa Pasca Idul Fitri Membangun Manusia Berkarakter

Minggu 30-03-2025,03:40 WIB
Reporter : Adam
Editor : Azmaliar Zaros

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat idul Fitri rahimakumullah 

Dijelaskan oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam bukunya Nashaihul Ibad  bahwa rusaknya lisan adalah seperti melaknat dan berbicara kotor. Rusaknya hati adalah seperti menyombongkan diri dan pamer. 

Sementara itu, orang yang berbangga dengan pendapatnya sendiri, cenderung memaksakan pendapat pribadi. Walaupun terkadang pendapat tersebut menyalahi aturan dan logika sehat serta tak mau disalahkan. Inilah bahayanya bangga dengan pendapat sendiri."

 

Menurut analisis Imam al-Ghazali, yang menyebabkan timbulnya sikap ujub atau mengagumi diri sendiri pada seseorang, ada tujuh macam. Yaitu: (1) Merasa paling bagus, (2) Merasa paling berkuasa, (3) Merasa lebih pandai dari yang lain, (4) Merasa berdarah bangsawan, (5) Merasa paling berjasa, (6) Merasa paling kaya dan (7) Merasa bahwa pendapatnya paling benar.   

Tujuh macam penyakit di atas, apabila menghinggapi seseorang, suatu kelompok atau suatu bangsa tertentu, pasti akan menimbulkan kerusakan yang dahsyat di muka bumi. Sikap angkuh dan ujub sangat dicela dalam agama Islam, karena ia akan mengantarkan umat manusia pada kebinasaan dan kehancuran.

 

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ  

 

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman, 31: 18).

Dalam konteks menguprade moral dan akidah inilah, puasa Ramadhan diwajibkan. Hal ini mengingat, jiwa seseorang punya akidah yang kuat dan akhlaq yang baik, -dikenal dengan sebutan taqwa-, maka akan berdampak kehidupan yang makmur, damai dan penuh ampunan Tuhan. 

 

Hal ini relevan dengan ada dua pesan Rasulullah ﷻ kepada Sayyidina Ali karramallahu wajhah saat bulan suci Ramadhan dan Syawal sebagaimana termaktub dalam kitab Washiyyatul Musthafa: 

Pertama, saat Ramadhan Nabi meminta agar bepuasa dengan meninggalkan semua keharamannya. Hasilnya adalah surga. 

 

Kategori :