Parade Dibatalkan, AS Rayakan Hari Kemerdekaan ke-250

Parade Dibatalkan, AS Rayakan Hari Kemerdekaan ke-250

AS Rayakan Hari Kemerdekaan ke-250, Parade Dibatalkan Karena Gelombang Panas Ekstrem-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id, Jakarta  - Jutaan warga Amerika Serikat merayakan Hari Kemerdekaan (Independence Day) ke-250 pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Seperti dikutip dari laman harian disway, perayaan bersejarah ini berlangsung di tengah keterbelahan politik yang mendalam serta di bawah kendali Presiden Donald Trump yang bertekad memberikan pengaruh kuatnya pada jalannya festival nasional tersebut.

BACA JUGA: Ini Ramuan Penurun Kolesterol Ala dr. Zaidul Akbar, Bisa Anda Bikin Sendiri di Rumah



Sedangkan pertunjukan kembang api tradisional di National Mall Washington—kawasan yang dikelilingi monumen para Pendiri Bangsa (Founding Fathers)—kali ini dibuat dalam skala jauh lebih besar dan diklaim sebagai yang terbesar sepanjang sejarah.

Donald Trump menambahkan, agenda penerbangan lintas militer (military flyovers) serta sebuah reli politik bergaya kampanye yang tidak biasa dalam peringatan penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan tahun 1776 ini. Hari libur nasional tersebut bertepatan dengan gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah AS. Sekitar 160 million warga diimbau waspada terhadap cuaca ekstrem, yang mengacaukan rencana pesta lingkungan dan acara barbeku di berbagai kota.

Akibat suhu di ibu kota AS yang diperkirakan mencapai 39°C (102°F) dengan indeks panas melonjak hingga 43–46°C, parade Hari Kemerdekaan di Washington terpaksa dibatalkan.  Meski demikian, Trump, yang genap berusia 80 tahun bulan lalu, tidak gentar dengan suhu yang menyengat tersebut.

"Suhu di luar akan berkisar 107 derajat (Fahrenheit), dan saya akan pergi ke sana untuk menyampaikan pidato yang sangat panjang—hanya untuk menunjukkan bahwa saya bisa melakukan apa saja," ujar Trump menjelang perayaan.

Kemudian, sebagian warga merasakan suasana yang berbeda pada perayaan kali ini. Patrick Thompson, seorang guru di pinggiran Washington, Alexandria, Virginia, memilih merayakan dengan barbeku biasa di rumah dan enggan menghadiri pertunjukan kembang api nasional.

"Kami tetap ingin merayakan negara ini dan bersikap patriotik, ini menyenangkan," kata Thompson kepada AFP. "Namun rasanya aneh karena ada noda di perayaan ini akibat keterlibatan Trump, dan perayaan ke-250 ini ternyata tidak seperti yang diharapkan orang-orang."


Musuh Dalam Selimut
Untuk diketahui, sebelumnya pada Jumat malam, Trump mengunjungi monumen ikonik Gunung Rushmore di South Dakota untuk menyampaikan pidato di bawah tatapan empat presiden legendaris pendahulunya yang terpahat di tebing granit: George Washington, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, dan Theodore Roosevelt.

Dalam pidatonya, selain memuji keistimewaan AS dan para pemimpin masa lalu, Trump juga memperingatkan akan "musuh dalam selimut". Ia mengklaim bahwa identitas Amerika sedang berada di bawah "serangan baru" dari kelompok "radikal dan ekstremis" domestik.

Ia secara khusus meluapkan kemarahannya pada apa yang disebutnya sebagai "kebangkitan ancaman komunis." Tema ini kerap digaungkan oleh pemimpin Partai Republik tersebut dalam beberapa pekan terakhir, seiring kemenangan beruntun kelompok kiri anti-kemapanan dari Partai Demokrat dalam pemilihan primer AS.

Pada Jumat tersebut, Trump menyebut adanya upaya untuk "menghilangkan semangat Amerika dari diri kita, dan mengasingkan kita dari sejarah kita" dalam beberapa tahun terakhir. Walau bahasanya tidak sekeras retorika anti-imigran dalam pidato-pidato sebelumnya, pesan dasarnya tetap tegas. 

"Anda tidak harus lahir di sini, tetapi Anda harus mencintai apa yang telah kita bangun," tegasnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: